Pemerintah Percepat Produksi Ayam, Telur dan Susu Nasional

RI Bangun Ekosistem Peternakan Nasional Rp17 Triliun, 5 Kawasan Dikebut Rampung 2027.
RI Bangun Ekosistem Peternakan Nasional Rp17 Triliun, 5 Kawasan Dikebut Rampung 2027.

Jakarta – Pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan kawasan peternakan terpadu sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Pengembangan ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari penyediaan pakan dan bibit hingga budidaya serta pengolahan hasil peternakan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa program tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kapasitas industri peternakan di dalam negeri.

Pemerintah, kata Amran, telah menyiapkan dana sekitar Rp17 triliun untuk membangun ekosistem peternakan di berbagai daerah. Pada tahap awal, terdapat lima kawasan yang menjadi prioritas pembangunan.

Kelima kawasan itu tersebar di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Khusus untuk pembangunan di lima wilayah tersebut, anggaran yang telah disiapkan mencapai sekitar Rp2,2 triliun.

“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah telah menyelesaikan berbagai kebutuhan administratif serta memastikan anggaran untuk pembangunan tahap awal tersebut. Karena itu, pengerjaan di lapangan kini terus dipacu agar dapat memenuhi target penyelesaian pada 2027.

“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” ujarnya.

Menurut Amran, kawasan peternakan yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai lokasi produksi ayam, telur, maupun susu. Kawasan tersebut akan dilengkapi berbagai fasilitas yang membentuk satu rantai produksi, mulai dari industri pakan, pembibitan ayam atau day old chick (DOC), peternakan ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah.

Konsep tersebut juga disiapkan untuk mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah berharap produksi dalam negeri dapat menjadi sumber utama pasokan bahan pangan bergizi yang dibutuhkan dalam program tersebut.

Baca Juga  Unit Microsoft di Rusia Ajukan Pailit di Tengah Tekanan Pemerintah

“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” jelas Amran.

Dalam skema tersebut, ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian. Jagung sebagai bahan utama pakan akan diupayakan berasal dari daerah penghasil yang berada di sekitar kawasan peternakan.

Amran mencontohkan kebutuhan jagung untuk kawasan di Sulawesi Selatan yang dapat dipasok dari sejumlah daerah, seperti Bone dan Soppeng, maupun wilayah lain di sekitarnya.

Pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi bahan baku dinilai dapat memangkas biaya distribusi. Dengan begitu, jagung tidak harus dikirim terlebih dahulu ke wilayah yang jauh untuk diproses sebelum kembali dibawa ke kawasan peternakan.

“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” tutur Amran.

Selain fasilitas pakan, pemerintah juga menyiapkan sarana pembibitan ayam atau DOC. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membuat peternak memperoleh bibit lebih mudah tanpa harus mendatangkannya dari daerah lain.

“Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap,” katanya.

Pengembangan kawasan juga mencakup peternakan sapi perah untuk meningkatkan produksi susu nasional. Amran menilai ketersediaan susu penting untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya bagi pertumbuhan anak-anak.

“Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” ujarnya.

Baca Juga  Kebijakan Likuiditas Baru Pemerintah Diprediksi Ciptakan Lapangan Kerja Massal

Ia menambahkan, peningkatan konsumsi dan ketersediaan ayam, telur, serta susu tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Menurutnya, program tersebut juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas generasi mendatang.

“Kenapa? Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” kata Amran.

Salah satu lokasi pembangunan kawasan peternakan berada di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 150 hektare dan diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan rantai produksi peternakan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Amran mengatakan konsep pembangunan terintegrasi diharapkan memberikan dampak yang lebih luas. Tidak hanya meningkatkan produksi peternakan, kawasan tersebut juga dapat memperkuat permintaan terhadap hasil pertanian, menciptakan kegiatan industri pengolahan, membuka peluang distribusi, serta menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

“Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” ucapnya.

Melalui pembangunan tersebut, pemerintah menargetkan terbentuknya sistem peternakan yang lebih terintegrasi dan efisien. Penguatan ini diharapkan dapat meningkatkan penyerapan jagung hasil produksi petani, memperkuat industri pakan dan pembibitan, serta meningkatkan ketersediaan ayam, telur, dan susu untuk kebutuhan pangan bergizi di dalam negeri.(BY)