1.000 Mangrove Ditanam, TNI Tantang Ancaman Abrasi di Padang Pariaman

PADANG PARIAMAN — Pesisir tak pernah benar-benar diam. Ombak datang dan pergi, sementara abrasi perlahan menggerus garis pantai. Di tengah ancaman yang kerap luput dari sorotan itu, TNI memilih merayakan HUT ke-81 bukan hanya dengan seremoni. Tetapi dengan menanam 1.000 bibit mangrove di Korong Tanjung, Nagari Gasan Gadang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman.

Ada pesan keras di balik ribuan bibit yang ditancapkan ke tanah pesisir tersebut. Mangrove bukan sekadar tanaman penghijauan. Ia adalah benteng alami yang berdiri di garis depan menghadapi abrasi, menjaga garis pantai, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut.

Ketika benteng itu hilang, yang dipertaruhkan bukan hanya ekosistem, tetapi juga ruang hidup masyarakat di kawasan pesisir.

Wakil Bupati Padang Pariaman, Rahmat Hidayat, hadir dalam kegiatan tersebut bersama Wakapolres, Dandim, Ketua DPRD, unsur Dinas Perhubungan, DPMPTSP, OPD terkait, KUA, Wali Nagari, kepala sekolah SMP dan SMK Pertanian, serta berbagai elemen masyarakat. Camat Batang Gasan beserta jajaran juga ikut turun langsung dalam aksi penanaman.

Baca Juga  Gagal Menaklukkan Tanjakan, Truk Mundur dan Tewaskan Kernet di Padang Pariaman

Namun, satu pertanyaan tak boleh berhenti di seremoni: setelah 1.000 bibit ditanam, siapa yang memastikan semuanya tumbuh?

Sebab, keberhasilan penghijauan tidak ditentukan oleh jumlah pohon yang masuk ke tanah pada hari ini, melainkan oleh berapa banyak yang bertahan dan berubah menjadi pelindung pesisir bertahun-tahun kemudian.

“Satu pohon hari ini, menjadi benteng pesisir untuk generasi mendatang.” Kalimat itu menjadi roh dari kegiatan tersebut. Sebab ancaman kerusakan lingkungan tidak mengenal seremoni.

Abrasi terus bergerak, sementara generasi mendatang akan menerima langsung konsekuensi dari keputusan hari ini. Apakah mereka mewarisi pesisir yang hijau atau garis pantai yang semakin kehilangan perlindungan.

Penanaman mangrove dalam rangka HUT ke-81 TNI menjadi lebih dari sekadar kegiatan lingkungan.

Ini adalah ajakan terbuka agar pemerintah, TNI, Polri, pemerintah nagari, sekolah, dan masyarakat tidak berhenti pada penanaman, tetapi bergerak bersama merawatnya.

Baca Juga  Akses Terputus Dibuka Lagi, TNI Dirikan Puluhan Jembatan di Wilayah Terdampak Bencana

Kolaborasi menjadi harga mati jika pesisir Padang Pariaman ingin benar-benar diselamatkan.

Dari Batang Gasan, TNI mengirimkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka 1.000. Pengabdian bukan hanya tentang menjaga kedaulatan negara, tetapi juga memastikan tanah, laut, dan lingkungan tetap layak diwariskan.

Kini publik tinggal menunggu pembuktian. Apakah 1.000 mangrove itu kelak benar-benar menjadi benteng pesisir, atau hanya menjadi angka yang indah dalam sebuah seremoni?.(tansri).