Jakarta – Peralihan menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan di Indonesia terus memasuki tahapan penting. Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan kini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur energi bersih, tetapi juga memperkuat keterlibatan sumber daya manusia, termasuk perempuan.
Sejumlah sektor menjadi bagian dari upaya tersebut, mulai dari pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kendaraan listrik, energi panas bumi, bioenergi, hingga penerapan efisiensi energi.
Transisi energi dinilai tidak cukup hanya ditopang oleh ketersediaan teknologi, pendanaan, dan regulasi. Keterlibatan manusia yang memiliki kapasitas serta komitmen untuk menggerakkan perubahan juga menjadi faktor penting agar transformasi menuju sistem energi yang bersih, berkeadilan, dan berkelanjutan dapat berjalan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Menurut dia, perkembangan EBT dan konservasi energi masih mengalami dinamika dari waktu ke waktu. Meskipun terdapat peningkatan dalam investasi maupun implementasi, pencapaiannya belum selalu bergerak secara konsisten.
“Hingga saat ini capaian pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi grafiknya naik turun. Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18,3%, sekarang terkoreksi sedikit,” kata Eniya dalam keterangannya di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Eniya menyambut positif keterlibatan individu, perusahaan, maupun institusi pendidikan yang ikut mengambil bagian dalam pengembangan energi bersih. Menurutnya, perguruan tinggi dapat memiliki peran strategis dalam memperkuat pusat keahlian energi terbarukan di berbagai daerah.
“Di mana ada universitas atau perguruan tinggi, kita overlay dengan sebaran EBT, sehingga di titik mana nanti universitas mana harus jadi center of excellence dari PLTS misalnya,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap pihak-pihak yang berkontribusi dalam pengembangan energi terbarukan dan energi bersih, Apresiasi EBTKE 2026 memberikan penghargaan kepada sejumlah perusahaan, perguruan tinggi, serta individu dalam berbagai kategori.
Salah satu kategori yang menjadi sorotan adalah Women in Clean Energy dalam Anugerah Energi Baru Terbarukan (AEBT) 2026. Penghargaan tersebut ditujukan bagi perempuan yang dinilai memberikan kontribusi dalam pengembangan energi bersih, inovasi, kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, serta percepatan transisi energi nasional.
Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menjadi salah satu penerima penghargaan tersebut. Ia meraih penghargaan pada subkategori Energy Leader.
Melalui AESI, Mada turut mendorong peningkatan keterlibatan perempuan dalam sektor energi bersih yang selama ini masih banyak didominasi laki-laki. Upaya tersebut dilakukan dengan membuka ruang yang lebih besar bagi pekerja perempuan untuk terlibat dalam industri energi.
Mada menilai keberhasilan transisi energi tidak dapat dilepaskan dari kontribusi seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan.
“Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi,” ujar Mada.
Pandangan serupa disampaikan Rita Kefi dari Yayasan Humanis yang menerima penghargaan pada subkategori Changemaker. Ia menilai pembangunan sektor energi seharusnya memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh pihak tanpa melihat latar belakang gender.
“Kalau berbicara tentang energi, ini tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di sektor energi karena orang mengenal bahwa sektor energi ini adalah sektor maskulin, sektornya laki-laki,” kata Rita.
Pengakuan terhadap kiprah perempuan di sektor energi tersebut juga sejalan dengan agenda Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI). Program ini mendorong peningkatan visibilitas perempuan sekaligus memperbanyak figur yang dapat menjadi panutan bagi generasi berikutnya.
Project Manager SETI dari Yayasan Indonesia Cerah, Caecilia Galih, mengatakan penghargaan bagi perempuan di bidang energi memiliki arti penting karena dapat memperlihatkan bahwa sektor tersebut terbuka bagi perempuan untuk berkontribusi dan memimpin.
“Pengakuan ini penting untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang kuat dalam mendorong perubahan di sektor energi. Kami berharap semakin banyak perempuan yang mendapatkan ruang untuk berkontribusi, memimpin, dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” ujar Caecilia.(BY)












