Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keseriusannya dalam mempercepat Proyek Strategis Nasional (PSN) Onshore LNG Abadi di Blok Masela. Ia memastikan pemerintah akan memberikan dukungan khusus kepada para investor agar proyek tersebut tidak lagi tersendat akibat proses birokrasi yang berlarut-larut.
Menurut Purbaya, proses perizinan yang sebelumnya berjalan lamban mulai menunjukkan perkembangan positif pada awal 2026. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah izin penting, termasuk izin internal dan persetujuan lingkungan, baru terbit pada Januari hingga Februari tahun ini.
Untuk memangkas hambatan administratif, Kementerian Keuangan membentuk satuan tugas khusus (special task force) yang bertugas mengawal progres proyek secara berkala. Tim ini akan menjadi pusat penyelesaian berbagai persoalan, mulai dari isu lingkungan hingga kendala impor peralatan industri.
Purbaya menegaskan, investor cukup menyampaikan kendala kepada tim tersebut dan penyelesaiannya akan dilakukan secara terkoordinasi di satu tempat. Dengan skema ini, pemerintah ingin memastikan tidak ada lagi proses yang bertele-tele.
Dari sisi target operasional, pemerintah mendorong percepatan jadwal produksi. Jika sebelumnya proyek diproyeksikan mulai beroperasi pada 2030–2031, kini diharapkan pada 2029 fasilitas sudah berdiri dan produksi gas dapat dimulai.
Terkait usulan relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pemerintah akan melakukan kajian cepat melalui tim khusus. Purbaya menekankan bahwa aspek keselamatan dan standar teknologi tetap menjadi prioritas utama, mengingat proyek gas berskala besar memiliki risiko tinggi sehingga tidak boleh ada kompromi terhadap kualitas.
Sebagai informasi, Proyek Lapangan Abadi di Blok Masela merupakan salah satu PSN yang berlokasi di Maluku. Pengelolaannya dilakukan oleh konsorsium yang terdiri dari Inpex Masela Ltd sebagai operator dengan porsi 65 persen, PT Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20 persen, dan Petronas Masela Sdn. Bhd sebesar 15 persen.
Proyek ini dinilai sangat strategis bagi ketahanan energi nasional. Target produksinya mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), 150 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), serta 35.000 barel kondensat per hari. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat pasokan gas nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia melalui efek berganda bagi masyarakat setempat.(BY)












