Mesin dan Peralatan Mekanik Catat Penurunan Impor Terbesar

Ilustrasi
Ilustrasi

PadangBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sepanjang Januari–November 2025 mencapai US$2,458,14 juta, meningkat 22,66 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Namun, pada November 2025, nilai ekspor Sumbar tercatat US$117,20 juta, turun 46,79 persen dibanding November 2024.

Kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto, menjelaskan, dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor tertinggi, golongan buah-buahan (HS 08) mengalami kenaikan paling signifikan sebesar US$17,46 juta atau naik 71,30 persen. Sementara, golongan sari bahan samak dan celup (HS 32) mengalami penurunan terbesar menjadi US$40,71 juta atau turun 28,35 persen.

“Negara tujuan ekspor terbesar Januari–November 2025 adalah India dengan nilai US$699,80 juta (28,47 persen), diikuti Pakistan US$537,91 juta (21,88 persen), dan Bangladesh US$300,71 juta (12,23 persen). Kontribusi ketiganya mencapai 62,58 persen,” ujar Sugeng. Ia menambahkan, komoditas utama yang diekspor ke India adalah crude palm oil.

Baca Juga  Tiga Pilar Investasi Danantara, Proyek Strategis, Komersial Privat, hingga Pasar Modal

Di sisi impor, nilai barang yang masuk ke Sumbar pada Januari–November 2025 mencapai US$530,17 juta, naik 15,55 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus November 2025, nilai impor tercatat US$66,30 juta, meningkat 39,73 persen dibanding November 2024.

Dari lima golongan barang impor utama, bahan bakar mineral mengalami kenaikan terbesar menjadi US$402,93 juta atau naik 35,87 persen. Sebaliknya, golongan mesin dan peralatan mekanik tercatat turun paling besar menjadi US$8,17 juta atau turun 65,77 persen.

Baca Juga  Toyota Innova Crysta GX+, Mesin, Fitur Baru, dan Harga yang Diumumkan

Lima negara pemasok utama selama Januari–November 2025 adalah Singapura US$232,23 juta (43,80 persen), Malaysia US$176,51 juta (33,29 persen), Brasil US$45,97 juta (8,67 persen), Kanada US$26,60 juta (5,02 persen), dan Tiongkok US$12,62 juta (2,38 persen).(des*)