Airlangga Jajaki Kerja Sama Traktor hingga Dump Truck dalam Lawatan ke Belarus

RI Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian dengan Belarus.
RI Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian dengan Belarus.

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, melakukan lawatan kerja ke sejumlah pusat industri manufaktur penting di Minsk, Belarus. Kunjungan ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong percepatan industrialisasi nasional, serta memaksimalkan peluang dari kerja sama perdagangan Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).

Pemerintah menilai penting untuk mengidentifikasi produk-produk unggulan di kawasan Eurasia yang berpotensi memenuhi kebutuhan domestik, khususnya pada sektor alat berat dan teknologi pertanian. Belarus dinilai sebagai mitra strategis, mengingat sektor manufakturnya menyumbang sekitar 20,3 persen terhadap PDB dan tingkat kemandirian pangannya mencapai 96 persen.

Menurut Airlangga, industri Belarus memiliki pengalaman panjang dalam memproduksi alat berat yang relevan untuk mendukung pengembangan industri nasional, termasuk mekanisasi pertanian modern dan penguatan sektor manufaktur alat berat di Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, Airlangga meninjau Minsk Tractor Works (MTZ) guna melihat langsung teknologi traktor yang berpotensi menunjang program food estate serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Pihak MTZ juga menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan Indonesia, termasuk membuka peluang transfer teknologi dan pelatihan tenaga kerja lokal.

Baca Juga  Kerja Sama MNC Finance dan Win Solution, Solusi Keuangan Aman dengan Jaminan BPKB Mobil

Upaya ini sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menekankan modernisasi alat dan mesin pertanian agar lebih efisien. Selain itu, turut dibahas kemungkinan pengembangan singkong menjadi etanol serta pemanfaatan baterai berbasis nikel untuk mendukung alat pertanian.

Agenda kunjungan kemudian berlanjut ke Minsk Automobile Plant (MAZ) dan BelAZ. Di MAZ, diskusi berfokus pada pengembangan kendaraan komersial dan bus rendah emisi, termasuk peluang perakitan di dalam negeri.

Sementara itu, pembahasan dengan BelAZ menitikberatkan pada penyediaan dump truck untuk industri pertambangan. Dengan volume ekspor batu bara Indonesia yang mencapai sekitar 800 juta ton per tahun, kebutuhan akan armada angkut yang andal dan berkelanjutan menjadi sangat penting.

Indonesia juga menawarkan kerja sama dalam rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam, serta pemanfaatan baterai nikel guna meningkatkan performa kendaraan tambang.

Meski peluang kerja sama cukup besar, Airlangga mencatat adanya kendala berupa minimnya informasi detail mengenai kebutuhan spesifik alat berat di Indonesia dari pihak Belarus. Untuk itu, kedua negara sepakat melakukan pemetaan kebutuhan secara bersama dan memperkuat mekanisme konsultasi rutin antar pelaku industri.

Baca Juga  Antisipasi Kemacetan, Tips Bijak dari Astra Infra untuk Pemudik di Tol Cikopo-Palimanan

Kunjungan ke tiga perusahaan besar Belarus tersebut diharapkan dapat memperkuat hasil pertemuan kerja sama bilateral sebelumnya, sekaligus menjadi landasan bagi rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia ke depan.

Dalam kunjungan ini, Airlangga turut didampingi oleh Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarus, Jose Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan KADIN dan APINDO.(BY)