Jakarta – Beberapa fenomena langit akan menghiasi malam-malam di bulan Agustus 2024, mulai dari Blue Moon hingga hujan meteor Perseid. Berikut daftar fenomena yang dapat disaksikan.
Sebagian fenomena ini bisa dinikmati dengan mata telanjang, namun beberapa memerlukan alat bantu seperti teropong atau teleskop. Langit malam yang cerah tanpa awan tebal atau hujan adalah syarat utama untuk menyaksikan fenomena-fenomena ini.
Berikut sejumlah fenomena langit yang akan terlihat di bulan Agustus:
Puncak Hujan Meteor Perseid
Hujan meteor Perseid aktif setiap tahun dari pertengahan Juli hingga akhir Agustus. Pada tahun ini, puncaknya akan terjadi pada 12-13 Agustus.
Menurut Royal Museums Greenwich, saat puncaknya, pengamat di Bumi dapat melihat hingga 100 meteor per jam. Hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi melewati sisa-sisa Komet Swift-Tuttle yang terakhir kali melintas dekat Bumi pada 1992. Meskipun intensitasnya bisa mencapai 150-200 meteor per jam, NASA mencatat bahwa rata-rata pengamatan biasanya sekitar 100 meteor per jam.
Untuk menyaksikan fenomena ini, carilah tempat yang terbuka tanpa halangan. Meteor-meteor ini akan terlihat begitu malam tiba, tetapi waktu terbaik untuk melihat Perseid adalah setelah tengah malam.
Parade 6 Planet Sejajar
Pada 28 Agustus, enam planet akan terlihat di langit secara bersamaan. Planet-planet tersebut adalah Merkurius, Mars, Jupiter, Uranus, Neptunus, dan Saturnus. Merkurius, Mars, Jupiter, dan Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi Merkurius akan berada lebih dekat ke cakrawala dan lebih sulit dikenali.
Untuk melihat Neptunus dan Uranus, Anda memerlukan teleskop atau teropong berkekuatan tinggi.
Penampakan Omega Centauri
Pengamat di belahan Bumi Selatan dapat menyaksikan gugus bintang terbesar di Bima Sakti, Omega Centauri, di dalam rasi Centurus yang terbenam di ufuk barat daya pada malam hari. Gugus ini bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi memerlukan teropong atau teleskop untuk melihat lebih jelas daripada sekadar gumpalan kabur.
Omega Centauri memiliki diameter 150 tahun cahaya dan berisi sekitar 10 juta bintang yang sangat rapat sehingga jarak rata-rata di antara bintang-bintang tersebut lebih dari 40 kali jarak Matahari dengan tetangganya, Proxima Centauri. Variasi usia bintang-bintang di gugus ini menunjukkan bahwa gugus ini adalah inti galaksi katai yang terbentuk di masa lalu di Bima Sakti.
Blue Moon
Fenomena Bulan Purnama pada Agustus dikenal dengan nama Blue Moon atau Purnama Biru dan akan terjadi pada 19 Agustus. Nama Blue Moon diusulkan oleh profesor cerita rakyat dari Memorial University, Kanada, Philip Hiscock, dalam Sky & Telescope pada 2012. Bulan Biru berarti sesuatu yang ganjil dan jarang terjadi.
Menurut Hiscock, istilah Blue Moon bukan berasal dari zaman kuno, tetapi merupakan “cerita rakyat modern yang disamarkan sebagai sesuatu yang kuno.” Pada awal 1900-an, istilah “Blue Moon” digunakan di tempat-tempat seperti Almanak Maine Farmer untuk merujuk pada fenomena ketika empat bulan purnama terjadi dalam satu musim di negara-negara beriklim subtropis.(des)












