Jakarta – Pemerintah Rusia berencana menghentikan sementara ekspor bensin mulai 1 April 2026. Kebijakan ini diumumkan oleh Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, yang juga telah meminta Kementerian Energi untuk menyiapkan rancangan aturan terkait penghentian tersebut.
Mengutip laporan Reuters pada Minggu (29/3/2026), pembatasan ekspor ini diperkirakan berlaku hingga 31 Juli 2026. Novak menjelaskan, langkah tersebut diambil sebagai respons atas ketidakstabilan harga minyak mentah global. Ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu fluktuasi harga energi dunia.
Sebelumnya, Rusia memang beberapa kali menerapkan pembatasan ekspor bahan bakar, termasuk bensin dan solar. Kebijakan ini dilakukan guna menjaga ketersediaan pasokan dalam negeri serta menekan lonjakan harga di pasar domestik.
Walaupun ekspor dihentikan, Novak menegaskan bahwa permintaan internasional terhadap energi asal Rusia tetap tinggi. Namun demikian, pemerintah saat ini lebih mengutamakan kestabilan kebutuhan dalam negeri.
Pada tahun sebelumnya, sejumlah wilayah di Rusia serta daerah Ukraina yang berada di bawah kendali Rusia sempat mengalami kekurangan pasokan bensin. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya serangan Ukraina terhadap fasilitas kilang minyak Rusia, bersamaan dengan naiknya permintaan bahan bakar.
Pemerintah Rusia juga menyatakan bahwa kapasitas pengolahan minyak mentah masih dipertahankan di tingkat yang sama seperti tahun lalu. Hal ini dilakukan untuk memastikan distribusi produk minyak di dalam negeri tetap aman.
Data industri menunjukkan bahwa sepanjang tahun lalu Rusia mengekspor hampir 5 juta metrik ton bensin ke berbagai negara. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 117 ribu barel bensin per hari.(des*)












