WASHINGTON – Amerika Serikat kembali melakukan pengujian rudal balistik antarbenua (ICBM) berkemampuan nuklir jenis LGM-30G Minuteman III. Uji coba ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Meski waktunya berdekatan dengan situasi geopolitik tersebut, otoritas militer AS menegaskan bahwa peluncuran itu tidak berkaitan dengan konflik yang sedang terjadi. Mereka menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari agenda pengujian rutin yang telah disiapkan sejak lama.
Rudal diluncurkan pada malam hari waktu setempat dari Vandenberg Space Force Base, California. Setelah lepas landas, proyektil tersebut melintasi Samudra Pasifik sejauh ribuan kilometer sebelum akhirnya mencapai sasaran uji di Atol Kwajalein, Kepulauan Marshall.
Menurut Air Force Global Strike Command, tujuan pengujian adalah mengukur performa, akurasi, serta keandalan sistem persenjataan tersebut. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk memastikan kesiapan dan efektivitas komponen pencegah nuklir berbasis darat milik AS.
Pihak militer juga menekankan bahwa uji coba semacam ini telah dilakukan ratusan kali selama beberapa dekade terakhir sebagai bagian dari program evaluasi jangka panjang. Peluncuran diawasi oleh tim teknis dari unit uji dan evaluasi yang memantau setiap tahap penerbangan.
Minuteman III saat ini menjadi satu-satunya ICBM berbasis darat yang masih dioperasikan Amerika Serikat. Rudal ini memiliki jangkauan hingga sekitar 13.000 kilometer dan mampu melesat dengan kecepatan mendekati Mach 23. Dengan kemampuan tersebut, rudal dapat mencapai target antarbenua dalam waktu kurang lebih setengah jam.
Sistem ini juga dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir tipe W-87, yang memiliki daya ledak jauh melampaui bom atom yang pernah digunakan pada Perang Dunia II. Uji coba terbaru ini disebut sebagai bagian dari komitmen AS untuk menjaga kesiapan sistem pertahanan strategisnya.(BY)












