Tarif Nol Persen Jadi Momentum Industri Nasional Perluas Pasar AS

Ketum Kadin.
Ketum Kadin.

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, mengajak pelaku industri nasional untuk lebih agresif menggarap pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat. Berdasarkan perhitungan Kadin, peluang nilai perdagangan Indonesia ke pasar AS diperkirakan bisa mencapai sedikitnya USD 40 miliar.

Anindya menilai, kesepakatan penyesuaian tarif perdagangan antara Indonesia dan AS menjadi momentum penting yang harus dimanfaatkan dunia usaha. Apalagi, terdapat sejumlah produk yang memperoleh fasilitas tarif masuk nol persen saat diekspor ke AS.

Ia menyebut berbagai sektor berpotensi meraih manfaat signifikan dari kebijakan tersebut, antara lain industri tekstil, alas kaki, furnitur, hingga elektronik. Oleh karena itu, menurutnya, industri dalam negeri perlu meningkatkan kapasitas produksi, bahkan melakukan pengembangan dan diversifikasi produk agar lebih kompetitif.

“Amerika Serikat merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita memperbesar kapasitas produksi agar ekspor dan perolehan devisa meningkat. Jadi pendekatannya tidak hanya bertahan, tetapi juga menyerang peluang yang sudah terbuka,” ujar Anindya saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).

Baca Juga  Pemindahan Kantor Presiden ke IKN Tergantung Ketersediaan Fasilitas

Terkait implikasi tarif nol persen, ia menilai kebijakan pembelian bahan baku dari AS sebagai bagian dari pengaturan kuota impor merupakan hal yang wajar. Menurutnya, langkah tersebut tidak akan merugikan neraca perdagangan kedua negara.

“Saya optimistis hubungan dagang dengan Amerika akan tetap memberikan hasil positif. Kita juga mengimpor komoditas yang memang dibutuhkan seperti kedelai, kapas, dan gandum. Selama harganya kompetitif, itu justru saling menguntungkan,” jelasnya.

Anindya juga menanggapi isu lain dalam kesepakatan dagang, yakni terkait perlunya persetujuan AS ketika Indonesia menjalin kerja sama perdagangan dengan negara lain. Ia menegaskan, ketentuan tersebut tidak menjadi hambatan serius bagi dunia usaha nasional.

Menurutnya, upaya diversifikasi pasar akan terus dilakukan agar Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan tertentu. Fleksibilitas dan kelincahan menjadi kunci keberlanjutan bisnis di tengah dinamika global.

Baca Juga  Trump Kirim Surat ke Prabowo, Produk Indonesia Kena Tarif Tinggi

“Ke timur, kita punya China sebagai mitra dagang terbesar. Ke barat, Amerika juga sangat penting. Selain itu, kami juga terus membuka peluang di ASEAN, Eropa, Kanada, kawasan Eurasia, hingga negara-negara di sekitar Rusia,” paparnya.

Ia menambahkan, eksplorasi pasar global mutlak diperlukan demi menjaga pertumbuhan ekspor-impor yang sehat dan berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia.(BY)