Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan Indonesia akan merealisasikan pembelian energi dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai USD15 miliar atau sekitar Rp253 triliun. Komoditas yang dibeli mencakup bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta minyak mentah (crude oil).
Menurut Bahlil, rencana ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan strategis antara pemerintah Indonesia dan AS yang telah diteken Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Donald Trump. Kerja sama tersebut bertujuan menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara.
Ia menjelaskan, dari total komitmen USD15 miliar itu, sebagian besar akan dialokasikan untuk pengadaan BBM, LPG, dan minyak mentah. Bahlil menyebut langkah ini sebagai momentum penting karena dilakukan dalam skala besar dan menjadi babak baru dalam hubungan dagang sektor energi kedua negara.
Pengalihan Sumber Impor
Meski nilai transaksi cukup besar, pemerintah menegaskan kebijakan ini tidak akan meningkatkan total impor energi nasional. Bahlil menuturkan, Indonesia hanya mengalihkan sebagian pasokan dari sejumlah negara lain ke AS.
Selama ini, impor energi Indonesia berasal dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, serta beberapa negara di Afrika. Dengan kebijakan baru ini, volume keseluruhan impor tetap, hanya sumbernya yang disesuaikan.
Tetap Mengutamakan Aspek Ekonomi
Bahlil memastikan proses pembelian akan dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip keekonomian yang adil dan saling menguntungkan. Skema kerja sama nantinya diharapkan memberikan manfaat bagi pemerintah dan pelaku usaha di kedua negara.
Menurutnya, seluruh mekanisme transaksi akan dirancang agar tetap kompetitif serta tidak merugikan kepentingan nasional, sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat antara Indonesia dan Amerika Serikat.(BY)












