Event “Pacu Kudo 2026” Padang Pariaman Menampar Modernitas

Padang Pariaman – Deru napas kuda yang membelah udara, sorak penonton yang meledak tanpa aba-aba, serta debu arena yang menari liar, selalu menyisakan getar batin yang sulit diterjemahkan kata.

Di tengah arus modernisasi yang nyaris menyeragamkan wajah budaya, masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat justru memilih berdiri tegak menjaga jejak warisan leluhur.

Pacuan kuda rakyat bukan sekadar tontonan, melainkan potret peradaban yang diwariskan lintas generasi, hidup dalam ingatan kolektif yang menolak dilupakan.

Dari riuh arena Pacu Kudo 2026 pada 28-29 Maret, tentu denyut ekonomi rakyat justru menemukan ruang bernapas. Lapak kuliner tradisional yang mengepul aroma rempah, kerajinan tangan berbalut sentuhan seni nagari, hingga ragam produk kreatif lokal menjelma magnet baru bagi ribuan pengunjung.

Tradisi yang dahulu dipandang sebatas perayaan adat itu, kini berubah menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif. Membuka jalan harapan bagi pelaku UMKM yang menggantungkan masa depan pada denyut keramaian alek nagari.

Sebelum kuda-kuda berpacu memperebutkan gengsi, panggung budaya terlebih dahulu menyala. Alek Nagari selama seminggu, 24 – 27 Maret 2026 tersebut akan menjelma pesta rasa yang menghidupkan ba-kampuang ba-nagari dengan warna-warni kesenian tradisional.

Denting gandang tasa yang bertingkah, hentakan silek, gerak indang yang anggun dari anak muda, hingga seni hulu ambek tidak hanya memanjakan mata. Tetapi menuturkan filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung adat dan kebersamaan.

Di ruang itulah, tradisi bukan sekadar dipertontonkan, melainkan diwariskan dengan emosi yang mengikat generasi muda pada akar budayanya.

Momentum budaya ini juga memantik kerinduan dunsanak rantau untuk pulang kampuang. Pacu Kudo menjadi panggilan batin yang sulit ditolak, ia menghadirkan pertemuan haru antara keluarga, sahabat lama, dan kenangan masa kecil yang terpendam.

Arus pulang kampuang tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga memperluas promosi wisata daerah melalui cerita, dokumentasi, dan pengalaman autentik yang dibawa kembali ke berbagai penjuru negeri.

Menurut Bupati John Kenedy Azis, Pacu Kudo adalah simbol ketahanan budaya yang tidak boleh runtuh oleh zaman. Ia menilai ketika tradisi mampu menumbuhkan kebanggaan kolektif, maka di situlah lahir fondasi kuat untuk membangun pariwisata berbasis kearifan lokal.

Menjaga tradisi, baginya, bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi konkret menyiapkan masa depan daerah yang berdaya saing melalui identitas budaya.

Di arena pacuan Duku Banyak, Balah Aie Timur, masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka hadir sebagai bagian dari denyut budaya yang menyatu dalam kehidupan sosial.

Lantas, warga masyarakat bersama aparatur sipil negara turun menyatu dengan semangat gotong royong. Membenahi kawasan serta membersihkan lintasan, juga keterlibatan pelaku usaha, hingga dukungan pemerintah daerah menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki ruang hidup yang luas.

Di sanalah terlihat bahwa kebudayaan bukan sekadar cerita masa silam, tetapi energi sosial yang terus menghidupi masyarakat.

Lebih dari sekadar tradisi, “event ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, memperkuat sektor pariwisata,” kata Kepala Disparpora Anton Wira Tanjung.

Pada akhirnya, Pacu Kudo 2026 akan menjelma simbol optimisme yang menampar anggapan bahwa tradisi akan kalah oleh modernitas.

Tiga keberhasilan seolah menyatu dalam satu perhelatan. Sukses mengangkat marwah budaya, sukses menggerakkan ekonomi kreatif rakyat, serta sukses mempromosikan wisata daerah ke panggung nasional.

Tradisi yang menolak padam itu kini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menyalakan obor masa depan masyarakat.

Event “Pacu Kudo” bukan hanya warisan masa lalu, tetapi kekuatan masa depan untuk masyarakat sejahtera berkemajuan.(ssc).