Jakarta – Air jahe kerap dikaitkan dengan berbagai manfaat bagi kesehatan, terutama dalam menjaga sistem pencernaan. Lalu, kapan waktu yang paling tepat untuk mengonsumsinya agar manfaat tersebut bisa dirasakan secara optimal?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jahe memiliki peran positif terhadap saluran cerna. Salah satunya tercantum dalam tinjauan ilmiah tahun 2024 yang menyebutkan bahwa jahe dapat membantu mendukung kesehatan pencernaan pada penderita sindrom iritasi usus besar (IBS) maupun penyakit radang usus (IBD), sebagaimana dilaporkan Healthline.
Cara kerjanya antara lain dengan meningkatkan motilitas lambung sehingga makanan lebih mudah bergerak melalui saluran pencernaan. Selain itu, jahe juga merangsang produksi cairan pencernaan serta membantu meredakan rasa tidak nyaman di perut.
Waktu konsumsi yang disarankan
Secara umum, tidak ada aturan pasti mengenai waktu terbaik minum air jahe. Meski begitu, para ahli menyarankan untuk mengonsumsinya sebelum makan atau bersamaan dengan makanan agar manfaatnya lebih terasa.
Ahli diet terdaftar Jane Leverich menjelaskan bahwa bukti yang ada menunjukkan jahe paling efektif jika diminum mendekati waktu makan. Hal ini diduga berkaitan dengan interaksi jahe terhadap makanan dan proses pencernaan. Beberapa studi juga menunjukkan jahe mampu mengurangi keluhan seperti mual dan kembung serta mempercepat pengosongan lambung.
Dokter Meena Malhotra menambahkan bahwa jahe memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan yang membantu menenangkan sistem pencernaan. Selain itu, konsumsi jahe bersama makanan berpotensi membantu menjaga kestabilan gula darah sehingga dapat mencegah rasa lemas setelah makan.
Dipengaruhi jenis makanan dan bentuk jahe
Efektivitas jahe juga dipengaruhi oleh jenis serta porsi makanan yang dikonsumsi. Minuman ini dinilai lebih bermanfaat saat dikombinasikan dengan makanan dalam jumlah besar, tinggi lemak, atau tinggi serat—jenis makanan yang umumnya dicerna lebih lambat. Dalam kondisi tersebut, konsumsi jahe sebelum atau saat makan dapat membantu merangsang pergerakan usus sejak awal proses pencernaan.
Sebaliknya, bila makanan yang dikonsumsi dalam porsi kecil, manfaat jahe mungkin tidak terlalu terasa.
Selain waktu konsumsi, bentuk jahe juga berpengaruh. Jahe segar mengandung gingerol dalam kadar lebih tinggi, yaitu senyawa yang berperan dalam efek antioksidan, anti-inflamasi, serta dukungan terhadap pencernaan. Saat jahe dikeringkan, sebagian gingerol berubah menjadi shogaol. Senyawa ini tetap memiliki aktivitas biologis, termasuk membantu meredakan mual dan peradangan, meski pengaruhnya terhadap pengosongan lambung tidak sebesar gingerol.(BY)












