Industri Tekstil Bersemangat Menyambut Tahun Ajaran Baru Sekolah

Industri Tekstil Bersemangat Menyambut Tahun Ajaran Baru Sekolah
Industri Tekstil Bersemangat Menyambut Tahun Ajaran Baru Sekolah

Jakarta– Industri tekstil Indonesia mengalami angin segar dengan persiapan tahun ajaran baru sekolah yang diyakini akan mendorong pemulihan dan pertumbuhan industri tekstil yang sedang tertekan. Permintaan pasar domestik, terutama untuk pakaian jadi, menjadi faktor utama yang membuat kinerja industri tekstil mengalami peningkatan. Direktur Industri, Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perdagangan, Adie Rochmanto Pandiangan, menyatakan hal tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (2/7/2023).

Berikut ini adalah fakta-fakta terkait dengan industri tekstil yang bangkit didorong oleh tahun ajaran baru sekolah:

1.Kebijakan P3DN Membantu Industri Tekstil

Kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) juga memberikan dorongan positif bagi industri tekstil. Peritel tengah menghabiskan sisa stok pakaian hasil produksi Lebaran Idul Fitri yang masih tersedia sejak akhir April lalu. Adie Rochmanto Pandiangan mengungkapkan, “Dugaan kami, kebijakan P3DN untuk pemenuhan pakaian sekolah negeri dan pakaian ASN di pemerintah sedang berlangsung. Untuk mengantisipasi kebutuhan ini, produsen telah meningkatkan aktivitas produksi mereka.”

Baca Juga  Cuaca Ekstrem Mengancam Sejumlah Wilayah Indonesia, BMKG Beri Peringatan Dini

2.Industri Tekstil Masih Mengalami Kontraksi

Meskipun terjadi perbaikan, Adie mengakui bahwa industri tekstil masih mengalami kontraksi karena tingginya impor yang menekan penjualan produk dalam negeri. Meskipun kinerja industri telah meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi belum mencapai puncaknya.

3.Industri Tekstil Meningkat Seiring Tahun Ajaran Baru

Adie berharap bahwa seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru, kinerja industri tekstil akan semakin membaik. Dia menjelaskan, “Impor tekstil kita meningkat dibandingkan bulan April. Volume impor tekstil pada bulan Mei mencapai 133 ribu ton dari sebelumnya 106 ribu ton. Volume impor tekstil yang meningkat ini menyebabkan terjadinya kelebihan stok tekstil di pasar dan masih banyak tersedia hingga bulan Juni 2023, yang pada gilirannya menurunkan penjualan tekstil dari industri garmen.”

4.Beberapa Subsektor Industri Masih Menghadapi Kendala

Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, mengungkapkan bahwa beberapa industri di subsektor tekstil masih mengalami kesulitan dan dilaporkan langsung oleh pelaku industri. Salah satu penyebab yang diduga kuat adalah tingginya volume impor pakaian bekas yang masuk melalui Pusat Logistik Berikat (PLB). Oleh karena itu, pihak terkait meminta kementerian dan lembaga terkait untuk lebih memperketat pengawasan terhadap barang-barang impor yang masuk dan keluar dari PLB.

Baca Juga  Gempa 4,1 Magnitudo Terjadi di Barat Laut Jailolo

Dengan persiapan tahun ajaran baru sekolah yang sedang berlangsung, industri tekstil berharap dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dan memanfaatkan peluang yang ada untuk memperkuat pertumbuhannya. Industri ini akan terus mengoptimalkan upaya dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk, serta mengurangi ketergantungan pada impor.(by)