Jakarta – Pemerintah Irak mengambil langkah nasionalisasi terhadap ladang minyak West Qurna 2, salah satu ladang minyak terbesar di dunia, sebagai upaya menjaga kelangsungan produksi di tengah sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan energi Rusia, Lukoil.
Keputusan ini muncul setelah Dewan Kabinet Irak menyetujui pengalihan sementara pengelolaan West Qurna 2 kepada perusahaan minyak milik negara, Basra Oil Company, selama 12 bulan ke depan. Selama periode tersebut, pemerintah akan aktif mencari pembeli untuk 75% saham Lukoil di ladang minyak strategis tersebut.
Langkah nasionalisasi dilakukan menyusul pengumuman force majeure oleh Lukoil pada November lalu, yang terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan sanksi terhadap Lukoil dan Rosneft. Sanksi yang diumumkan pada Oktober dan berlaku efektif 21 November itu merupakan bagian dari tekanan AS terhadap Rusia terkait konflik di Ukraina.
West Qurna 2 memiliki peranan penting bagi sektor energi Irak dengan kapasitas produksi sekitar 465.000–480.000 barel minyak per hari. Ladang ini menyumbang sekitar 0,5% pasokan minyak global dan hampir 9% dari total produksi minyak Irak, menjadikannya kontributor utama bagi negara yang merupakan produsen terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi.
“Kami berupaya memastikan produksi tetap stabil di tengah ketidakpastian akibat sanksi AS, sambil mencari calon pembeli untuk saham Lukoil selama periode 12 bulan,” ujar seorang pejabat Basra Oil Company kepada Reuters, Sabtu (10/1/2026).
Pejabat tersebut menegaskan, operasi di ladang minyak tetap berjalan normal. Untuk mendukung kelancaran operasional, Dewan Kabinet menyetujui skema pembiayaan melalui rekening ladang minyak Majnoon, yang diperkuat dari hasil penjualan minyak mentah oleh pemasar minyak negara, SOMO. Basra Oil Company akan menanggung gaji pekerja lokal, biaya operasional, serta pembayaran kepada subkontraktor.
Sanksi terhadap Lukoil juga memicu ketertarikan investor global. Sejumlah perusahaan, termasuk ExxonMobil, Chevron, dan ekuitas swasta Carlyle, dikabarkan tertarik mengakuisisi saham West Qurna 2. Lukoil sendiri memiliki tenggat waktu hingga 17 Januari untuk melepas aset luar negerinya yang diperkirakan bernilai sekitar USD 22 miliar.(des*)












