Jakarta – Olahan makanan dengan cara direbus atau dikukus belakangan semakin digemari karena dianggap lebih sehat. Namun, di balik kepraktisannya, jenis masakan ini perlu mendapat perhatian khusus karena relatif mudah mengalami pembusukan jika tidak disimpan dengan benar.
Makanan rebus dan kukus memiliki kadar air tinggi, sehingga lebih cepat rusak apabila dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Jika tetap dikonsumsi dalam kondisi tidak layak, risiko gangguan kesehatan pun meningkat.
Mengutip informasi kesehatan, makanan yang sudah rusak umumnya terkontaminasi mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau jamur. Konsumsi makanan tersebut dapat memicu keracunan makanan, dengan gejala seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, demam, hingga tubuh terasa lemas.
Lantas, bagaimana cara mengenali rebusan atau kukusan yang sudah tidak aman untuk dimakan? Berikut ciri-cirinya.
Ciri Makanan Rebus dan Kukus yang Sudah Rusak
1. Aroma Menyimpang
Indikator paling mudah dikenali adalah bau. Makanan yang aman biasanya memiliki aroma normal atau netral. Sebaliknya, jika tercium bau asam, apek, atau menyengat yang tidak biasa, sebaiknya makanan tersebut tidak dikonsumsi.
Aroma tidak sedap menandakan adanya aktivitas mikroba selama proses penyimpanan. Meski demikian, tidak semua makanan yang rusak langsung mengeluarkan bau, sehingga perlu memeriksa tanda lain sebelum memutuskan untuk memakannya.
2. Tekstur Berubah
Perubahan tekstur juga patut diwaspadai. Makanan kukus atau rebus yang awalnya memiliki tekstur tertentu akan terasa berbeda saat mulai rusak.
Jika makanan menjadi terlalu lembek, berlendir, lengket, atau terasa aneh saat disentuh, kemungkinan besar kualitasnya sudah menurun. Kondisi ini kerap terjadi akibat penyimpanan yang terlalu lama atau suhu yang tidak sesuai.
Makanan dengan tekstur tak wajar sebaiknya langsung dibuang. Sayuran bisa dikomposkan, sedangkan daging, ikan, atau bahan hewani lainnya sebaiknya dibuang ke tempat sampah tertutup agar tidak menimbulkan bau.
3. Tumbuh Jamur
Munculnya jamur merupakan tanda paling jelas bahwa makanan sudah tidak layak konsumsi. Jamur biasanya terlihat sebagai bercak berwarna putih, hijau, atau hitam pada permukaan makanan.
Berbeda dengan produk tertentu yang memang menggunakan jamur sebagai bagian dari proses fermentasi, masakan rumahan hasil rebus atau kukus tidak seharusnya memiliki jamur.
Jika jamur muncul pada makanan lunak seperti nasi, tahu, sayuran, atau daging, sebaiknya seluruh bagian makanan dibuang. Pada bahan yang lebih keras, sebagian orang memilih memotong area yang berjamur, namun dari sisi keamanan, membuang seluruh makanan tetap menjadi pilihan paling aman.
4. Warna Daging Tidak Normal
Perubahan warna pada daging matang juga bisa menandakan pembusukan. Ayam, sapi, atau ikan yang sudah dimasak seharusnya memiliki warna yang wajar dan tampak segar.
Apabila daging berubah menjadi keabu-abuan, kehijauan, atau terlihat kusam, hal tersebut patut dicurigai. Meski perubahan warna ringan bisa terjadi karena paparan udara, kombinasi dengan bau tak sedap atau lendir menandakan makanan sebaiknya tidak dikonsumsi.
Untuk menghindari risiko ini, simpan daging matang di lemari es dan konsumsi dalam waktu yang disarankan. Jika ingin disimpan lebih lama, pembekuan dapat menjadi alternatif yang lebih aman.(BY)












