Jakarta – Senat Amerika Serikat pada Rabu (17/12/2025) resmi menyetujui Jared Isaacman sebagai Administrator Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA). Pengesahan ini mengakhiri proses penunjukan panjang dan berliku yang telah berlangsung lebih dari satu tahun.
Isaacman sebelumnya sempat dicalonkan sebagai pimpinan NASA pada Desember 2024 oleh Presiden terpilih saat itu, Donald Trump. Namun, pencalonan tersebut dibatalkan secara mendadak sekitar lima bulan kemudian menyusul evaluasi internal terkait hubungan-hubungan di masa lalu.
Situasi tersebut berubah pada November 2025 ketika Trump kembali mengajukan nama Isaacman. Presiden menilai latar belakang wirausaha serta ketertarikan mendalam Isaacman pada eksplorasi luar angkasa menjadikannya figur yang tepat untuk membawa NASA memasuki fase baru yang lebih ambisius.
Pergantian pucuk pimpinan ini terjadi di tengah tantangan besar yang dihadapi NASA, khususnya terkait arah kebijakan dan keterbatasan anggaran. Seperti banyak lembaga federal lainnya, NASA terdampak kebijakan penghematan pemerintahan Trump yang mencakup pengurangan signifikan pada dana dan jumlah pegawai.
Sebelum disahkan oleh Senat, Komite Perdagangan, Sains, dan Transportasi lebih dahulu meloloskan pencalonan Isaacman dalam sidang pada 3 Desember di Capitol Hill. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan pentingnya mengembalikan astronaut Amerika ke Bulan sebelum China berhasil mencapai target serupa.
Isaacman yang berusia 42 tahun dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO perusahaan pemrosesan pembayaran Shift4. Meski belum pernah berkarier di lembaga pemerintahan atau NASA, ia akan menggantikan peran Sean Duffy, Menteri Transportasi AS yang sejak Juli menjabat sebagai administrator sementara NASA.
Dalam berbagai pernyataan di hadapan anggota Senat, Isaacman menyebut misi utama kepemimpinannya adalah mempercepat kembalinya manusia ke Bulan serta memastikan Amerika Serikat unggul dalam persaingan antariksa terbaru dengan China. Saat ini, ambisi kedua negara berfokus pada pembangunan kehadiran manusia jangka panjang di Bulan, meski program Artemis NASA kerap terkendala penundaan dan pembengkakan biaya, sementara program luar angkasa China dinilai bergerak lebih konsisten.
NASA menargetkan peluncuran empat astronaut untuk misi mengelilingi Bulan pada tahun depan sebagai tahap uji coba krusial. Jika tahap ini berjalan sukses, pendaratan manusia di wilayah kutub selatan Bulan direncanakan sekitar tahun 2027. Di sisi lain, China telah menyatakan niatnya mendaratkan astronaut di Bulan pada 2030.
Di luar target eksplorasi, NASA masih dibayangi ketidakpastian anggaran. Awal tahun ini, pemerintahan Trump mengusulkan pemangkasan dana NASA lebih dari 6 miliar dolar AS atau sekitar seperempat dari total anggaran, meski rencana tersebut menuai penolakan keras dari anggota Kongres.
Pengangkatan Isaacman juga memicu sorotan atas relasinya dengan pendiri SpaceX, Elon Musk. Musk diketahui pernah mendukung pencalonan Isaacman dan memiliki kedekatan politik dengan Trump, sebelum hubungan Trump–Musk merenggang secara terbuka.
Dalam sidang konfirmasi, Isaacman diminta menjelaskan kaitannya dengan SpaceX, termasuk fakta bahwa ia telah dua kali melakukan penerbangan luar angkasa menggunakan wahana perusahaan tersebut dengan biaya pribadi. Menanggapi hal itu, Isaacman menegaskan bahwa pilihannya terbang bersama SpaceX semata karena perusahaan tersebut saat ini menjadi satu-satunya pihak yang mampu mengangkut astronaut ke orbit sejak program pesawat ulang-alik dihentikan.(BY)












