Solok – Kasus kematian pasangan suami istri di Solok, Sumatera Barat, yang diduga akibat paparan gas karbon monoksida (CO), menjadi peringatan serius mengenai bahaya gas beracun yang tidak terlihat dan sulit dideteksi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menekankan pentingnya edukasi dan deteksi dini untuk mencegah insiden serupa.
“Karbon monoksida tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Karena itulah masyarakat sering tidak menyadari keberadaannya hingga menimbulkan masalah kesehatan serius,” ungkap Prof. Tjandra saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa gas CO dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darah ratusan kali lebih kuat dibanding oksigen, sehingga menghambat pasokan oksigen ke organ vital tubuh. Paparan CO bisa menimbulkan gejala awal seperti sakit kepala, pusing, lemas, mual, dan nyeri dada. Pada paparan tinggi, kematian bisa terjadi bahkan sebelum gejala muncul.
“Penanganan pertama harus cepat. Korban perlu segera dipindahkan ke area bebas paparan, kemudian diberikan oksigen murni 100 persen untuk menggantikan oksigen yang terganggu,” jelasnya. Jika kondisi tidak membaik, terapi oksigen hiperbarik bisa dilakukan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah kerusakan organ permanen.
Dalam upaya pencegahan, Prof. Tjandra yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara menyarankan masyarakat untuk:
Memastikan alat berbahan bakar tidak bocor
Tidak menyalakan kendaraan di ruang tertutup
Mengenali gejala awal paparan CO
Memasang detektor karbon monoksida, seperti yang umum digunakan di negara maju
“Di luar negeri, rumah-rumah dengan risiko paparan CO biasanya dilengkapi detektor. Edukasi publik sangat penting untuk mencegah tragedi serupa,” tegasnya.
Terkait kasus di Solok, Prof. Tjandra menekankan perlunya investigasi forensik untuk memastikan penyebab kematian. “Harus dipastikan apakah kematian benar akibat keracunan CO atau ada faktor lain yang terlibat. Analisis lebih mendalam sangat diperlukan,” tutupnya.(des*)












