Jakarta – Aksi unik seorang kakek di Kramat Jati, Jakarta Timur, berhasil menarik perhatian warga sekaligus viral di media sosial. Subari, pria berusia 75 tahun, menghalau pengendara motor yang nekat melintas di trotoar dengan cara yang tak biasa: membentangkan ular piton peliharaannya di jalan.
Aksi Subari dilakukan karena kesal melihat trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki, justru dijadikan jalur alternatif oleh pengendara motor saat macet. Untuk menjaga hak pejalan kaki, Subari mengambil langkah yang mengejutkan.
“Pejalan kaki susah kalau motor lewat atas. Jadi saya inisiatif keluarkan ular saya ke trotoar,” ujar Subari kepada 20detik, Jumat (17/10).
Ular sanca batik bernama Petir sepanjang sekitar empat meter itu dibawa Subari dari rumahnya dan dibentangkan di trotoar saat jalanan padat. Cara ini terbukti efektif: tidak satu pun pemotor yang berani melewati jalur tersebut, bahkan beberapa terlihat panik dan segera memutar arah.
“Semua nggak berani lewat. Ada yang lari, ada yang langsung turun ke jalan. Karena mereka mengganggu pejalan kaki, ya saya keluarkan ular,” tambah Subari.
Meski aksinya banyak mendapat dukungan warganet, Subari mengaku pernah mendapat teguran bahkan ancaman dari sejumlah pengendara motor yang merasa terganggu. Beberapa dari mereka sempat ingin memviralkan aksinya karena dianggap merugikan hewan.
“Tapi saya nggak peduli. Tujuan saya hanya menjaga hak pejalan kaki yang dirampas oleh pemotor,” ujar Subari tegas.
13 Tahun Bersama “Petir”
Subari sudah memelihara Petir selama 13 tahun, sejak ular itu berusia delapan bulan. Ia merawatnya dengan penuh perhatian, bahkan memperlakukan Petir seperti anggota keluarga. Meski demikian, Subari tetap merasakan gigitan atau lilitan ular yang agresif saat lapar. Petir diberi makan dua ekor ayam dua kali seminggu, hingga kini tumbuh besar dengan panjang sekitar empat meter dan bobot 40 kilogram.
Warga Dukung Aksi Subari
Beberapa warga di sekitar Kramat Jati mengakui efektivitas metode Subari. Anwar, salah satu warga, mengatakan, “Kalau ada ular ditaruh, nggak ada yang berani lewat. Ukurannya besar, bikin orang mikir-mikir.”
Warga lainnya, Ibrahim, menambahkan bahwa sejak Subari membentangkan ular di trotoar, motor tidak lagi melintas di jalur pejalan kaki, terutama saat jalan macet akibat proyek galian di Jalan Haji Bokir bin Djiun.
Subari pun tetap tegas melanjutkan aksinya demi menegakkan hak pejalan kaki. Dukungan warga membuatnya yakin bahwa cara uniknya itu tidak salah, sekaligus menjadi pengingat bagi pengendara motor untuk menghormati trotoar.(des*)












