50.000 Rumah Target 2030, Tirta Anai Genjot Pelayanan Masyarakat

Pemasangan pipa
Pemasangan pipa

Padang Pariaman – Di sudut Korong Kampung PanehNagari Padang Toboh UlakanAklima menatap sumur bor kelimanya yang gagal. Air yang keluar keruh, berbau, dan sama sekali tidak layak digunakan, bahkan untuk sekadar mencuci. 

Di bawah terik matahari Kabupaten Padang Pariaman, musim kemarau menjadi ujian berat bagi keluarganya, memaksa mereka bekerja ekstra demi mendapatkan air bersih

Bagi Aklima dan ratusan warga lainnya, air bersih bukan sekadar kebutuhan ia adalah anugerah yang menentukan kualitas hidup.

“Salah satu hal terpenting dalam hidup ini adalah air bersih,” ujarnya penuh harap.

Kisah Aklima mencerminkan perjuangan ribuan warga yang masih menanti rumahnya tersambung dengan air bersih. Perumda Tirta Anai, perusahaan daerah yang kini memasuki usia 35 tahun, memikul harapan besar masyarakat untuk pelayanan air yang layak.

Yoji, Manajer Penelitian dan Pengembangan Tirta Anai, menjadi saksi hidup perjalanan perusahaan. Ia memulai dari tenaga sukarela pada 2003, kemudian menjadi honorer dengan gaji Rp315.000, hingga menjadi karyawan tetap pada 2006. Dalam lebih dari dua dekade pengabdiannya, Yoji menilai banyak potensi perusahaan yang belum tergarap maksimal.

“Dari 7.000 pelanggan saat saya mulai, kini jumlahnya mencapai 28.000. Tapi jika dibandingkan dengan lebih dari 400 ribu penduduk Padang Pariaman, angka itu masih kecil. Potensi kita sangat besar, namun belum dimanfaatkan,” ungkapnya.

Yoji menaruh harapan besar agar Tirta Anai mampu melayani 50.000 rumah pada 2030. Namun, warisan infrastruktur tua dan manajemen yang kurang profesional menjadi tantangan utama. Banyak peluang perbaikan, termasuk bantuan USAID pasca-gempa 2009 dan program SPAM 2011-2015 untuk masyarakat berpenghasilan rendah, tidak dimanfaatkan secara optimal.

Saat ini, jaringan pipa utama yang berusia lebih dari 25 tahun rapuh, rawan bocor, dan tidak lagi memadai. Yoji memperkirakan investasi lebih dari Rp100 miliar diperlukan untuk peremajaan total.

Aznil Mardin, Direktur Perumda Tirta Anai 2025-2030, baru tiga bulan menjabat, langsung menghadapi kondisi kompleks: infrastruktur menua, manajemen keuangan yang perlu dibenahi, budaya kerja yang harus direformasi, dan pencarian sumber mata air baru.

“Semua masalah ini harus diurai dan diselesaikan satu per satu. Jika tidak, harapan menjadikan Perumda Tirta Anai perusahaan profesional dan bermanfaat bagi masyarakat tidak akan tercapai,” tegas Aznil.

Salah satu langkah konkret adalah pembentukan Unit Reaksi Cepat bernama ‘Si Cigin’—akronim dari Cepat, Informatif, Gigih, Ikhlas, dan Nyata. Tim ini bertugas merespons gangguan secara cepat, melakukan inspeksi jaringan, memantau tekanan air, hingga menangani kebocoran dengan alat modern seperti geophone dan noise correlator.

Perubahan yang dilakukan Tirta Anai mulai terasa di Padang Sago. Sebelum SPAM terpasang pada 2013, warga seperti Awalludin harus berjalan jauh ke sungai untuk kebutuhan air. Kini, mereka menikmati aliran air bersih langsung ke rumah.

“Alhamdulillah, airnya sudah lancar. Masyarakat tidak lagi kesulitan air bersih,” kata Awalludin.

Di bawah kepemimpinan baru, Tirta Anai bertekad menulis babak baru. Bukan hanya sekadar menyalurkan air dari pipa tua, tetapi mengalirkan harapan, menebar transformasi, dan memastikan setiap tetes air menjadi berkah bagi seluruh warga Padang Pariaman. (des*)