Berita  

Sejarah dan Proses Tradisional Keju Dangke Sulsel

Dangke, Keju Istimewa
Dangke, Keju Istimewa

Jakarta – Indonesia tak kalah dengan Eropa dalam hal keju. Salah satu keju tradisional yang punya sejarah panjang adalah Dangke, asal EnrekangSulawesi Selatan. Meski keju identik dengan kuliner Barat, masyarakat Enrekang telah lama mengolah susu sapi dan kerbau menjadi keju khas mereka.

Proses pembuatan dangke tetap tradisional hingga kini. Bahan utamanya adalah susu sapi atau kerbau, yang dipadukan dengan getah pepaya untuk memfermentasi dan mengentalkannya. Bagi masyarakat Enrekang, dangke lebih dari sekadar sumber protein tinggi—ia juga sarat makna budaya dan simbol kehormatan.

1. Sejarah Dangke

Dangke diperkirakan sudah dikenal sejak awal abad ke-20. Kala itu, peternak sapi dan kerbau di Enrekang mengolah susu menjadi makanan padat agar lebih awet. Awalnya, dangke hanya dinikmati oleh bangsawan dan pemilik ternak, serta dihidangkan pada tamu penting atau acara adat. Seiring waktu, dangke menyebar ke masyarakat umum dan kini menjadi warisan kuliner yang dijaga keberlangsungannya.

2. Asal Usul Nama

Nama “dangke” diyakini berasal dari bahasa Belanda, “dank je”, yang berarti terima kasih. Konon, keju ini pertama kali disajikan kepada orang Belanda yang datang ke Enrekang. Ucapan mereka yang spontan justru melekat dan menjadi sebutan untuk keju lokal tersebut. Nama ini pun menjadi bagian dari sejarah interaksi budaya antara masyarakat setempat dan kolonial Belanda.

3. Proses Pembuatan Tradisional

Pembuatan dangke masih mengandalkan cara tradisional tanpa mesin. Susu sapi atau kerbau dipanaskan hingga mendidih, kemudian dicampur dengan getah pepaya muda yang mengandung enzim papain untuk membantu proses koagulasi. Setelah susu dan whey terpisah, gumpalan keju disaring dan dipadatkan menggunakan batok kelapa atau daun pisang sebagai pembungkusnya.

4. Tradisi Penyajian

Berbeda dengan keju di Barat yang biasanya dinikmati sebagai camilan atau bagian dari charcuterie, dangke di Enrekang sering disajikan sebagai pelengkap nasi. Pada jamuan keluarga atau hajatan, dangke menjadi hidangan yang wajib ada. Dahulu, hanya bangsawan dan peternak yang bisa menikmati dangke karena proses fermentasinya yang rumit. Kini, keju ini lebih mudah diakses, terutama ketika disandingkan dengan nasi khas Enrekang, pulu mandoti.

5. Popularitas Dangke Saat Ini

Dahulu hanya dikenal di kalangan lokal, kini dangke telah mendapatkan pengakuan resmi. Kementerian Hukum dan HAM mendaftarkan dangke sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK). Keju ini pun menarik wisatawan dan berhasil menembus pasar internasional. Meskipun beberapa produsen mulai memproduksi dengan mesin dan kemasan modern, mayoritas masyarakat Enrekang tetap mempertahankan metode tradisional yang dianggap memberi cita rasa lebih autentik.

Dangke bukan hanya soal rasa, tetapi juga sejarah dan budaya. Keju khas Enrekang ini membuktikan bahwa kuliner Indonesia menyimpan warisan unik yang patut dijaga dan dibanggakan.(BY*)