Jakarta – Berbagai inisiatif terus dilakukan oleh institusi keuangan guna meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap literasi keuangan. Salah satunya adalah program edukasi yang menyasar generasi muda, khususnya Gen Z, untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan mengelola keuangan.
Bank Raya menjadi salah satu lembaga yang aktif dalam upaya ini. Bersama BRI Danareksa Sekuritas, mereka menyelenggarakan program edukatif bertajuk Inspiraya edisi Juni, yang fokus pada pentingnya investasi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak muda masa kini.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah pembicara berpengalaman, antara lain M. Farhad (VP Digital & Product Bank Raya), Chory Agung (Customer Engagement & Market Analyst BRI Danareksa Sekuritas), Olivia Louise (Financial Educator), serta Prita Ghozie (CEO ZAP Finance dan Perencana Keuangan).
Corporate Secretary Bank Raya, Ajeng Putri Hapsari, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas institusi ini bertujuan mempercepat inklusi keuangan melalui penyampaian konten yang tidak hanya membahas penggunaan layanan bank digital, tetapi juga pentingnya memilih strategi investasi yang selaras dengan profil risiko individu.
“Materi yang kami sajikan bukan sekadar soal mengatur keuangan, namun juga bagaimana membangun kebiasaan investasi yang sesuai dengan karakter nasabah,” jelas Ajeng pada Sabtu, 21 Juni 2026.
Lebih lanjut, Ajeng menjelaskan bahwa Gen Z, yang saat ini berada di rentang usia produktif 12 hingga 27 tahun, cenderung memiliki pola pikir yang mengedepankan pemenuhan kebutuhan saat ini sembari tetap mengejar kebebasan finansial di usia muda. Oleh karena itu, dibutuhkan wawasan dan pemahaman mendalam mengenai alokasi pendapatan serta strategi investasi jangka panjang.
Prita Ghozie, dalam sesi pemaparannya, membagikan prinsip dasar pengelolaan keuangan melalui pembagian pos anggaran: 50% untuk kebutuhan hidup (living), 30% untuk tabungan atau investasi (saving), dan 20% untuk hiburan atau kebutuhan pribadi lainnya (playing). Ia menyebut, proporsi ini mencerminkan perilaku keuangan yang sehat.
“Pembagian seperti ini membantu kita lebih bijak dalam mengatur pengeluaran dan membentuk kebiasaan finansial yang baik,” ungkap Prita.
Sementara itu, Olivia Louise menekankan bahwa dalam dunia investasi selalu ada potensi risiko pasar. Karena itu, ia menganjurkan para investor pemula untuk memahami karakter instrumen yang dipilih serta mencocokkannya dengan toleransi risiko pribadi.
Senada dengan itu, Chory Agung dari BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa saham, reksadana, dan obligasi merupakan tiga instrumen yang saat ini paling diminati publik. Ia juga menggarisbawahi perbedaan antara strategi trading dan investing dalam pembelian saham.
“Trading lebih fokus pada fluktuasi harga jangka pendek untuk meraih keuntungan cepat, sedangkan investing lebih menitikberatkan pada analisis fundamental dan teknikal untuk prospek jangka panjang,” jelas Chory.
Dengan pendekatan yang edukatif dan relevan, Bank Raya bersama mitranya berharap dapat mendorong generasi muda untuk membangun masa depan finansial yang lebih cerah dan mandiri.(BY)












