Tanah Datar – Para pengrajin di Sentra Tenun Tigo Jangko memiliki peranan penting dalam melestarikan budaya lokal, terutama terkait dengan tenun-menenun. Aktivitas tersebut juga mendorong peningkatan perekonomian warga.
Demikian dikatakan istri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Ny. Nur Asia Uno, saat berkunjung ke sentra tenun itu, Sabtu (28/8), didampingi Ketua Dekranasda Tanah Datar Ny. Lise Eka Putra, Pengelola Rumah Tenun Tigo Jangko Ny. Sativa Sutan Aswar alias Atitje, dan Kepala Sekolah Tenun Jasminar.
‘’Saya merasa senang bisa datang ke Tanah Datar, khususnya Sentra Tenun Tigo Jangko ini. Sungguh kunjungan yang amat luar biasa, apalagi saya juga bertemu Ibu Atitje yang mendedikasikan dirinya berbagi ilmu tenun-menenun, sulam menyulam dengan warga pengrajin di sini,’’ kata Ny. Nur Asia yang akrab dengan sapaan Mpok Nur.
Informasi yang saya peroleh, imbuhnya, Ibu Atitje mendapat kepercayaan khusus dari Ibu Mufida Jusuf Kalla yang menginisiasi sentra tenun ini untuk dikelola dengan baik melalui Yayasan Kriya Minangkabau, sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian warga dan menjaga kelestarian budaya lokal dalam percaturan arus globalisasi ini.
Kepada anak didik yang sedang menimba ilmu dan keterampilan di sentra tenun tersebut, Mpok Nur juga meminta agar tetap semangat. Dia juga berjanji akan mengupayakan bantuan pengembangan sentra tenun tersebut.
Apresiasi atas dedikasi Ibu Atitje juga disampaikan Ny. Lise, karena dengan senang hati pulang ke kampung halaman untuk melatih warga, agar terampil dalam hal tenun-menenun, sebagai salah satu upaya meningkatkan penghasilan warga menuju ke kehidupan yang lebih baik.
‘’Ibu Atitje ini adalah seorang doktor bidang tekstil. Dia dengan senang hati pulang kampung membantu warga. Semoga ilmu yang dikembangkan dalam melatih masyarakat di Sentra Tenun Tigo Jangko ini memberi manfaat besar, karena beliau adalah ahlinya pertekstilan,’’ ujar Ny. Lise.
Menurutnya, pemerintah daerah dan Dekranasda Tanah Datar juga memiliki kepentingan yang sama dengan Yayasan Kriya Minangkabau, terutama menyangkut kemajuan pertenunan daerah, meningkatkan perekonomian masyarakat, dan melestarikan khazanah budaya lokal Minangkabau.
Ihwal besarnya manfaat mengikuti pelatihan tenun-menenun di Sentra Tenun Tigo Jangko, diakui salah seorang pengrajin. Pola pelatihan selama masa Covid-19 ini, ujarnya, terbilang aman karena mereka tetap bisa berada di rumah, mengawasi anak-anak, tetapi bisa bekerja dan menghasilkan.
‘’Mendidik peserta tidak hanya terampil menenun, tetapi Ibu Atitje juga membekali kami dengan ilmu pengetahuan. Kami juga disiapkan untuk sekaligus sebagai pengrajin dan mentor,’’ jelasnya.(suardi)













