Fativa.id – Jujur saja, layanan kereta api di Sumatera Barat semakin membaik. Kereta api telah menjadi andalan bagi masyarakat yang ingin bepergian antara Padang dan Pariaman, serta sebaliknya.
Tidak hanya itu, pembangunan stasiun-stasiun baru terus dilakukan. Salah satunya terletak di Kecamatan Pauh, Padang, yang menjadi titik tunggu bagi masyarakat yang ingin pulang kampung ke Pariaman. Stasiun ini juga menjadi solusi bagi mahasiswa yang tinggal di Limau Manis dan sekitarnya, karena tidak lagi perlu pergi ke pusat kota untuk menaiki kereta. Hal ini menunjukkan bahwa layanan kereta api semakin dekat dengan masyarakat.
Selain itu, pembangunan di Stasiun Simpang Haru juga semakin maju, bahkan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. Hal ini membuat stasiun tersebut mirip dengan kota-kota besar di Indonesia.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, mengumumkan bahwa reaktivasi jalur kereta api di beberapa wilayah telah dimasukkan ke dalam agenda pemerintah provinsi.
Selain itu, reaktivasi juga akan dilakukan untuk jalur Padang Panjang-Sawahlunto, Padang Panjang-Bukittinggi, dan Bukittinggi-Payakumbuh. Proses koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan terus dilakukan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dirjen Perkeretaapian. Kami sedang mencari lokomotif yang sesuai dengan jalur rel di Sumbar. Ada kemungkinan lokomotifnya ada di Swiss,” ungkap Mahyeldi.
Kereta api di Padang difokuskan sebagai angkutan publik, yang telah direncanakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJ) 2025 Sumatera Barat.
Reaktivasi jalur kereta api di lintas Padang-Bukittinggi tidak hanya akan meningkatkan sektor transportasi, tetapi juga akan menghidupkan kembali kenangan masa lalu dan membuka peluang baru bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Rel kereta api adalah bagian dari warisan sejarah kolonial, serta menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa ini. Pembangunan rel kereta oleh pemerintah kolonial bertujuan untuk menghubungkan antar daerah.
Jalur kereta api di Sumatera Barat memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda, dengan pembangunan jalur Pulau Air ke Padang Panjang yang diresmikan pada 6 Juli 1887. Meskipun banyak ruas kereta api di Sumbar yang tidak lagi aktif, namun reaktivasi jalur tersebut menjadi prioritas untuk dihidupkan kembali. (*)












