![]() |
| Seusai acara pembukaan seminar nasional, Kepala BPS Sumbar, Herum Fajarwati, dan Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, saling bertukar cenderamata. (ist) |
Padang – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar menggelar seminar nasional, dalam rangka Hari Statistik Nasional (HSN) 2021 secara daring dan luring di Aula BPS Sumbar, Rabu (22/9), dengan tema ‘membangun perekonomian desa melalui pariwisata, menuju Sumbar tangguh dan tumbuh.
Kepala BPS Sumbar, Herum Fajarwati pada sambutannya mengatakan, adanya pandemic covid-19 yang sudah hampir 2 tahun, telah membuat banyak perubahan dalam berbagai aktifitas kehidupan masyarakat di seluruh dunia dan telah membuat perekonomian terguncang dan tumbuh negatif, bahkan mengalami resesi pada 2020.
“Pertumbuhan ekonomi nasional mengalami kontraksi, begitu juga Sumbar. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mengupayakan pemulihan ekonomi,” katanya.
Ia mengatakan, Sumbar dengan potensi alamnya yang cocok untuk sektor pertanian, telah membuat sektor pertanian menjadi sektor dominan dalam perekonomian. Pada sisi lain, juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai lokomotif perekonomian di pedesaan, sehingga pertumbuhannya bisa lebih baik.
“Keindahan alam, warisan budaya, kuliner, kerajinan, dan lainnya, tidak dimiliki oleh semua daerah di Indonesia, merupakan sebuah anugerah yang luar biasa bagi Sumbar,” tambahnya.
Sementara berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk usia muda, dimana untuk Sumbar, persentase kelompok umur penduduk generasi milenial (lahir tahun 1981-1996) dan generasi Z (lahir tahun 1997-2012) mencapai lebih dari 50%.
Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Sumbar, karena aktivitas generasi inilah yang berpotensi menjadi penggerak dalam pembangunan, tidak terkecuali pada sektor pariwisata.
“Pada Juli lalu, BPS melakukan survey secara daring terhadap perilaku masyarakat terhadap pandemic Covid-19 selama PPKM, dimana sebagian besar responden (mewakili masyarakat) menyatakan jenuh. Hal ini mengisyaratkan bahwa masyarakat perlu aktivitas yang bisa memberikan suasana menyenangkan, relaks dan membuat lebih semangat,” ungkapnya.
Sudah barang tentu ini menjadi peluang bagi sektor pariwisata. Antara lain dengan meningkatkan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan nusantara ke Sumbar.
Selanjutnya, dalam rangka mewujudkan Satu Data Indonesia, sebagaimana amanah Perpres 39 th 2019 tentang SDI, BPS telah menetapkan quick wins berupa Desa Cinta Statistik atau Desa Cantik.
Diharapkan melalui Desa Cantik ini berbagai data di tingkat Desa/kelurahan/nagari dapat dikekola dengan baik untuk dasar kebijakan pembangunan di berbagai bidang, termasuk pembangunan pariwisata.
“Beberapa alasan tersebut, maka isu pembangunan desa wisata kami angkat dalam Seminar hari ini. Dengan hadirnya para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya, tentu sangat menarik dalam pengembangan desa wisata di Sumbar,” ujarnya.
Secara khsusus tujuan Seminar Nasional HSN 2021 di Sumbar, untuk memaparkan dan membahas seputar pembangunan perekonomian desa di bidang kepariwisataan yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemerintahan Sumbar.
Merupakan wadah bagi para stakeholder dalam berdiskusi, berbagi informasi dan bertukar pikiran mengenai pembangunan perekonomian desa, melalui pariwisata menuju Sumbar tangguh dan tumbuh.
Sementara Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2020 masih tumbuh positif, sebesar 3,89 persen lalu terkontraksi pada triwulan II sebesar -4,92 persen. Triwulan III sebesar -2,91 persen dan -2,23 persen pada triwulan IV, sehingga pertumbuhan ekonomi selama 2020 sebesar -1,60 persen.
“Pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi pada triwulan 1 2021 sebesar -0,15 persen. Tetapi mulai triwulan II 2021, pertumbuhan ekonomi sudah mulai tumbuh positif yaitu sebesar 5,76 persen,” katanya.
Selama ini perekonomian Sumbar ditopang oleh sektor pertanian (21,62%), perdagangan (15,66%), serta transportasi dan pergudangan (10,70%). Dimana sektor pertanian merupakan sektor unggulan yang menggerakkan perekonomian di desa/nagari.
Sementara di perdesaan tersebut ada potensi wisata yang bisa dikembangkan, sehingga menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang bisa menggerakkan perekonomian desa/nagari.
Selain Wagub, hadir juga sebagai narasumber Ir. Atqo Mardiyanto, Kepala Biro Perencanaan, yang saat ini juga selaku Plt Sestama BPS RI, yang hadir secara virtual, Indra Ni Tua, Direktur Tata Kelola Destinasi dan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Pariwisata RI, juga hadir secara virtual. Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, Direktur Penyerasian Pembangunan Sosial Budaya dan Kelembagaan Kementerian PDTT Republik Indonesia, dan lainnya. (yuni)













