Rupiah Diprediksi Fluktuatif di Tengah Sentimen Global

Rupiah Hari Ini.
Rupiah Hari Ini.

Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.915 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 28 poin atau sekitar 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen global. Salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian pasar adalah berlanjutnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang mendapat dukungan Iran.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi. Kekhawatiran pasar semakin besar setelah adanya serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak di Riyadh pada awal pekan.

Meski demikian, aliran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah tercatat meningkat sepanjang September. Bahkan, volume minyak yang melewati Selat Hormuz sempat berada di atas level sebelum konflik berlangsung.

Di sisi lain, risiko terhadap keamanan pelayaran di kawasan Teluk dan Selat Hormuz kembali meningkat memasuki Oktober. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan bahan bakar dunia.

Ketegangan juga semakin diperhatikan setelah insiden terhadap kapal tanker di kawasan tersebut mencapai level tertinggi dalam sepekan terakhir sejak perang Iran dimulai. Kondisi itu terjadi ketika negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk tengah berupaya meningkatkan aktivitas ekspor.

Salah satu insiden terbaru terjadi ketika sebuah kapal tanker terkena proyektil sekitar 51 mil laut di sebelah utara Madinat ash Shamal, Qatar. Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Rabu melaporkan adanya korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar saat ini secara umum memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Ekspektasi tersebut muncul setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.

Baca Juga  Pembangunan Masif di Era Jokowi, 15 KEK Beroperasi di Luar Pulau Jawa

Meski begitu, tekanan inflasi masih menjadi perhatian. Kenaikan harga energi berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi sehingga peluang adanya perubahan kebijakan suku bunga pada Desember masih terbuka.

Pelaku pasar juga akan mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran AS yang dijadwalkan diumumkan Kamis malam pukul 19.30 WIB. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.

Dari dalam negeri, sentimen konsumen Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif positif. Hal itu terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tetap berada di atas level 100 pada September 2026.

Namun, tingkat optimisme tersebut sedikit menurun. IKK September tercatat sebesar 118,1, lebih rendah dibandingkan posisi Agustus yang mencapai 118,5. Secara umum, angka di atas 100 menunjukkan konsumen masih memiliki pandangan optimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini hingga enam bulan ke depan.

Penurunan IKK terutama dipengaruhi melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE). Pada September, indikator tersebut berada di level 107,5, turun dari 109,4 pada bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan penilaian masyarakat terhadap situasi ekonomi saat ini sedikit memburuk.

Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru mengalami peningkatan. Indeks tersebut naik dari 127,6 pada Agustus menjadi 128,7 pada September. Kenaikan itu menunjukkan masyarakat masih melihat peluang ekonomi yang lebih baik dalam enam bulan mendatang.

Sentimen domestik lainnya datang dari kondisi keuangan negara. Kementerian Keuangan mencatat realisasi APBN hingga Agustus 2026 mengalami defisit Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca Juga  Rp20 Triliun Bansos Tersalur hingga Juli 2025, Ribuan KPM Baru Masuk Data

Dari sisi penerimaan, pendapatan negara baru mencapai sekitar 65,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153 triliun. Sementara itu, belanja negara telah terealisasi Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari pagu belanja yang ditetapkan sebesar Rp3.842 triliun.

Sejumlah ekonom mengingatkan agar angka tersebut tidak hanya dilihat berdasarkan persentase realisasi. Kondisi penerimaan negara juga perlu memperhitungkan pos restitusi pajak yang masih berpotensi berubah.

Restitusi yang belum dibayarkan dapat membuat penerimaan bersih pemerintah untuk sementara tampak lebih besar. Padahal, pemerintah masih memiliki kewajiban mengembalikan dana kepada wajib pajak.

Apabila pembayaran restitusi meningkat pada kuartal IV, terutama akibat pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kepada eksportir serta penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih negara berpotensi berkurang. Situasi tersebut dapat memperbesar defisit APBN meskipun tidak disertai peningkatan belanja.

Namun, seluruh restitusi yang masih tertunda tidak serta-merta akan menjadi tambahan defisit. Besarnya pengaruh terhadap APBN akan bergantung pada nilai restitusi yang belum dibayarkan serta waktu pencairannya.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil pada perdagangan berikutnya. Mata uang domestik diperkirakan berpotensi melemah dalam kisaran Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS.(BY)