AS Tutup Pintu untuk Mobil China, Produsen Negeri Tirai Bambu Bidik Eropa dan Kanada

Kongres AS didesak mengubah pembatasan regulasi mobil China yang saat ini berlaku menjadi larangan permanen.
Kongres AS didesak mengubah pembatasan regulasi mobil China yang saat ini berlaku menjadi larangan permanen.

Jakarta – Persaingan industri kendaraan global kembali memanas setelah pelaku industri otomotif Amerika Serikat (AS) mendorong Kongres memperkuat pembatasan terhadap kendaraan dan teknologi otomotif asal China.

Aturan yang selama ini membatasi akses produk otomotif China di pasar AS dinilai belum cukup. Kelompok industri otomotif AS menginginkan pembatasan tersebut diubah menjadi kebijakan permanen.

Desakan itu datang dari Alliance for Automotive Innovation, organisasi yang menaungi mayoritas produsen kendaraan yang beroperasi di pasar AS. Sejumlah perusahaan yang tergabung di dalamnya antara lain General Motors, Ford, Toyota, BMW, Hyundai, Honda, Volkswagen, Mercedes-Benz, Kia, dan Volvo.

CEO Alliance for Automotive Innovation John Bozzella telah menyampaikan permintaan tersebut melalui surat kepada pimpinan Kongres. Ia berharap regulasi baru dapat disahkan sebelum periode sidang Kongres saat ini berakhir pada 3 Januari.

Dalam suratnya, Bozzella memperingatkan bahwa produsen China terus memperluas distribusi kendaraan yang dilengkapi perangkat keras dan perangkat lunak terkoneksi ke berbagai negara.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut kompetisi industri. Aspek keamanan data serta kepentingan ekonomi AS juga menjadi alasan di balik permintaan untuk memperketat regulasi.

Bozzella menilai kendaraan asal China memiliki kemampuan mengumpulkan dan mengolah berbagai informasi mengenai kendaraan maupun penggunanya. Kekhawatiran muncul apabila data tersebut dapat diakses atau dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintah China.

Mobil China Sulit Masuk AS

Produk otomotif asal China sejauh ini memang menghadapi hambatan besar untuk masuk ke pasar AS. Selain tarif impor yang tinggi, Washington juga menerapkan pembatasan terhadap teknologi kendaraan terkoneksi yang memiliki keterkaitan dengan China.

Kebijakan tersebut turut memberikan tekanan kepada Polestar, merek kendaraan listrik yang mempunyai hubungan dengan China. Kondisi pasar dan regulasi di AS membuat perusahaan tersebut memilih meninggalkan pasar Amerika.

Baca Juga  PT Chery Sales Indonesia Siap Luncurkan Tiggo 5X pada 13 Juni 2024

Meski demikian, pelaku industri otomotif AS masih mengkhawatirkan kemungkinan perubahan kebijakan pada masa mendatang. Karena itu, mereka menginginkan aturan yang lebih permanen agar pembatasan terhadap teknologi dan kendaraan China tidak mudah berubah.

Namun, rencana tersebut juga menghadapi persoalan tersendiri. Regulasi yang terlalu luas berpotensi menyeret perusahaan global yang memiliki hubungan bisnis maupun kepemilikan dengan investor China.

Salah satu proposal yang telah melewati komite Senat pada Juli, misalnya, berpotensi memengaruhi Mercedes-Benz. Investor asal China tercatat memiliki hampir seperlima saham produsen mobil Jerman tersebut.

Volvo juga berada dalam posisi yang sensitif karena perusahaan tersebut sepenuhnya berada di bawah kepemilikan Geely, grup otomotif asal China.

Karena itu, Alliance for Automotive Innovation menginginkan aturan yang dapat membatasi risiko dari China tanpa mengganggu perusahaan otomotif yang selama ini sudah berinvestasi dan menjalankan bisnis di AS.

Xiaomi Bidik Pasar Eropa

Di saat Washington berusaha mempersempit ruang gerak produsen China, ekspansi perusahaan otomotif dari negara tersebut justru terus berlanjut di pasar lain.

Xiaomi menjadi salah satu perusahaan yang tengah menyiapkan langkah besar di Eropa. Perusahaan teknologi tersebut berencana mulai menjual kendaraan listriknya di pasar Eropa pada 2027.

Untuk mendukung rencana tersebut, Xiaomi telah menjalin kerja sama dengan delapan kelompok dealer di Jerman. Kehadirannya diperkirakan semakin memperkuat persaingan dengan merek China lain seperti BYD, Xpeng, Leapmotor, dan Nio.

Penetrasi produsen China di Eropa juga semakin terlihat dari kontribusi kendaraan buatan China terhadap penjualan mobil di kawasan tersebut. Lebih dari 10% mobil yang terjual di Eropa disebut berasal dari produksi China.

Kanada Justru Tambah Impor Mobil China

Kebijakan berbeda diterapkan Kanada. Di tengah upaya AS memperketat akses kendaraan China, pemerintah Kanada justru kembali membuka kesempatan impor kendaraan listrik dari Negeri Tirai Bambu.

Baca Juga  Beckham Putra Gantikan Pemain Cedera, Fokus Hadapi China dan Jepang

Kanada menyediakan tambahan kuota hingga 33.397 kendaraan listrik China. Kuota tersebut berasal dari kapasitas yang belum terpakai pada alokasi sebelumnya.

Sejumlah produsen seperti BYD, Chery, dan Geely juga disebut sedang menjalani proses sertifikasi agar kendaraan mereka dapat dipasarkan di Kanada.

Perbedaan pendekatan antara AS, Eropa, dan Kanada menunjukkan bagaimana strategi masing-masing negara dalam menghadapi ekspansi industri otomotif China semakin beragam.

AS memilih memperketat akses, sementara pasar Eropa terus menerima kehadiran merek China. Kanada di sisi lain justru memberikan tambahan ruang melalui kuota impor kendaraan listrik.

China Diprediksi Tetap Bisa Masuk AS

Ambisi Washington untuk menutup akses kendaraan China secara permanen juga diperkirakan menghadapi tantangan besar.

Bahkan di kalangan industri otomotif AS sendiri terdapat pandangan bahwa produsen China pada akhirnya tetap akan menemukan jalan untuk memasuki pasar Amerika.

CEO Ford disebut tidak yakin bahwa AS mampu sepenuhnya mencegah perusahaan otomotif China beroperasi di negaranya untuk selamanya.

Ford memperkirakan produsen China berpotensi memasuki pasar AS dalam rentang lima hingga 10 tahun mendatang. Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa persaingan otomotif antara kedua negara kemungkinan masih akan menjadi isu besar dalam beberapa tahun ke depan.(BY)