Heboh Logo PWI di Sumbar Teacher Summit 2026, Promotor Klarifikasi dan Sampaikan Maaf

Padang – Polemik penggunaan nama dan logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat dalam kegiatan Sumbar Teacher Summit 2026 akhirnya mendapat klarifikasi dari pihak penyelenggara.

Promotor kegiatan Sumbar Teacher Summit 2026, Mr. Herdinal, menyampaikan permohonan maaf kepada Ketua PWI Sumbar beserta seluruh jajaran atas munculnya sejumlah atribut organisasi tersebut dalam kegiatan yang digelar 13-14 Agustus 2026.

Sebagaimana relis yang diterima media ini, Jumat (4/9/2026) pagi, Herdinal menegaskan, Sumbar Teacher Summit 2026 pada dasarnya merupakan kegiatan mandiri yang tidak memiliki kerja sama dengan PWI Sumbar. Kegiatan tersebut terlaksana berdasarkan komunikasi dan kesepakatan dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA, SMK dan SLB se-Sumatera Barat.

Ia menjelaskan, komunikasi mengenai kemungkinan kolaborasi dengan PWI Sumbar memang sempat dilakukan. Bahkan, dirinya mengaku beberapa kali menyampaikan perkembangan persiapan kegiatan kepada sejumlah pengurus PWI Sumbar secara informal.

Herdinal menjelaskan kronoliginya. Sekitar dua pekan sebelum kegiatan berlangsung, dirinya melalui Syaiful Husain juga meminta agar rencana kerja sama tersebut dibahas secara internal oleh jajaran PWI Sumbar. Tujuannya agar kedua pihak memiliki pemahaman yang jelas mengenai hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan kegiatan.

Namun, hingga mendekati hari pelaksanaan, pembahasan mengenai bentuk kerja sama tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Bahkan, pada 7 Agustus 2026, Herdinal mengaku mendapat informasi bahwa kerja sama dengan PWI Sumbar diminta untuk dibatalkan.

Meski demikian, menurut Herdinal, saat itu komunikasi dengan sejumlah pengurus PWI Sumbar masih terus berlangsung. Ia kemudian meminta kepastian mengenai keputusan tersebut dan berharap persoalan yang muncul dapat dijembatani sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Puncaknya terjadi pada 11 Agustus 2026 ketika Herdinal dipanggil ke Kantor PWI Sumbar untuk membahas persoalan tersebut. Pertemuan itu dihadiri sejumlah pengurus PWI Sumbar. Dalam pertemuan tersebut, kata Herdinal, akhirnya disepakati bahwa Sumbar Teacher Summit tetap berjalan, tetapi tidak melibatkan PWI Sumbar dan tidak menggunakan nama maupun logo organisasi tersebut.

Herdinal mengatakan keputusan itu diterimanya. Persoalannya, saat keputusan dibuat, persiapan kegiatan sudah berada pada tahap akhir. Gedung, narasumber, tiket perjalanan, pengisi acara hingga kru produksi telah dipersiapkan. Bahkan sejumlah narasumber dan kru dari Jakarta telah berada di Sumatera Barat.

Baca Juga  Rombongan Bantuan Banjir Alami Kecelakaan, Dua Warga Beurandang Meninggal

“Acara tetap harus berjalan karena persiapannya sudah sekitar 90 persen. Tidak mungkin diundur hanya dua hari sebelum pelaksanaan,” jelasnya dalam klarifikasi tersebut.

Setelah keputusan tersebut, Herdinal bersama tim mengaku langsung berupaya menghapus seluruh identitas PWI dari materi publikasi dan produksi acara. Namun, karena sebagian materi seperti backdrop, banner, video bumper, teaser dan video profil telah selesai diproduksi, waktu yang tersisa untuk melakukan perubahan sangat terbatas.

Ia menyebut hanya memiliki waktu sekitar satu setengah hari untuk melakukan pemeriksaan ulang dan mengubah berbagai materi yang sebelumnya telah diproduksi.

Meski sudah dilakukan pengecekan, beberapa atribut yang berkaitan dengan PWI ternyata masih muncul ketika kegiatan berlangsung. Herdinal menegaskan kemunculan tersebut tidak disengaja dan bukan merupakan upaya untuk mencatut nama organisasi profesi wartawan tersebut.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah munculnya nama Persatuan Wartawan Indonesia pada monitor televisi di Hotel ZHM. Menurut Herdinal, pihaknya telah menginformasikan kepada hotel sehari sebelum acara bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan mandiri Indonesia Inspiring Teacher. Namun, terjadi kekeliruan pada tim operasional hotel sehingga nama dan logo PWI masih muncul.

Selain itu, logo PWI juga sempat terlihat dalam pelaksanaan kegiatan hari kedua yang dilakukan secara daring. Setelah dilakukan penelusuran, Herdinal menyebut logo tersebut berasal dari halaman awal materi presentasi salah seorang narasumber. Materi presentasi itu telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya dan berisi banyak elemen audio visual sehingga tidak mudah diubah dalam waktu singkat.

Persoalan lain berkaitan dengan proposal yang mencantumkan logo PWI dan sebelumnya telah mendapatkan disposisi Gubernur Sumatera Barat kepada Dinas Pendidikan.

Herdinal menjelaskan, proposal tersebut dibuat ketika rencana kolaborasi dengan kepengurusan PWI Sumbar sebelumnya masih dalam pembahasan.

Ia juga memberikan klarifikasi mengenai contoh desain sertifikat yang menampilkan logo PWI. Herdinal mengatakan desain tersebut hanya berupa contoh yang ditampilkan dalam materi presentasi.

Sertifikat yang benar-benar diberikan kepada peserta dalam kegiatan Sumbar Teacher Summit 2026, menurutnya, tidak menggunakan logo PWI dan tidak dibubuhi tanda tangan Ketua PWI Sumbar.

Baca Juga  Jokowi Akan Resmikan Pengolah Sampah Jadi Listrik di Surabaya

Herdinal mengakui adanya kelalaian dalam proses tersebut. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada Ketua PWI Sumbar, pengurus serta anggota PWI Sumbar atas munculnya nama dan logo organisasi dalam sejumlah bagian kegiatan.

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin memastikan tidak ada lagi logo PWI setelah keputusan tanggal 11 Agustus. Namun, dengan waktu yang sangat terbatas, ternyata masih ada beberapa bagian yang luput dari pemeriksaan,” ujarnya.

Ia menegaskan tidak pernah bermaksud melecehkan, mencatut ataupun mencederai kesepakatan dengan PWI Sumbar. Klarifikasi tersebut disampaikan agar persoalan yang berkembang tidak dipahami sebagai tindakan yang dilakukan dengan sengaja.

Herdinal juga menegaskan bahwa sejak dua hari sebelum pelaksanaan, PWI Sumbar tidak lagi terlibat dalam Sumbar Teacher Summit 2026. Ia juga menyatakan tidak memberikan materil apa pun kepada PWI Sumbar terkait penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Sumbar Teacher Summit 2026 merupakan kegiatan mandiri yang kami selenggarakan dengan pembiayaan dari peserta. Tidak ada APBD Provinsi Sumatera Barat yang kami gunakan,” tegasnya.

Di akhir klarifikasinya, Herdinal kembali menyampaikan permohonan maaf dan berharap PWI Sumbar dapat menerima penjelasan tersebut sebagai bentuk itikad baik untuk meluruskan persoalan.

Ia mengaku kejadian tersebut menjadi pelajaran penting agar setiap bentuk kerja sama dan penggunaan identitas organisasi ke depan dituangkan secara tertulis dan disepakati terlebih dahulu oleh seluruh pihak.

“Dengan kerendahan hati saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Ketua PWI Sumbar dan seluruh pengurus. Tidak ada sedikit pun niat saya untuk mencederai organisasi PWI,” tutup Herdinal.(Rel)