Jakarta — Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang dipasang pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dinilai terlalu tinggi oleh Center of Economic and Law Studies (Celios).
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, mengatakan asumsi makroekonomi yang digunakan pemerintah belum sepenuhnya mencerminkan berbagai risiko yang masih membayangi perekonomian Indonesia maupun global.
Menurutnya, target pertumbuhan 6 persen dan inflasi yang dijaga pada kisaran 2,5 persen dengan deviasi 1 persen cukup sulit dicapai apabila tekanan ekonomi global dan persoalan domestik tidak mengalami perbaikan signifikan.
Huda menjelaskan, kondisi ekonomi dunia saat ini masih menghadapi ketidakpastian, salah satunya akibat meningkatnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional dan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian global.
Sejumlah lembaga internasional juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tidak akan terlalu tinggi. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 2,8 persen, OECD sekitar 3,1 persen, sedangkan IMF memperkirakan 3,4 persen. Perlambatan ekonomi di negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat turut menjadi perhatian.
“Target pertumbuhan ekonomi 6 persen saya nilai terlalu optimis di tengah kondisi ekonomi global dan nasional seperti saat ini, di mana pertumbuhan ekonomi global melemah dan bank sentral seperti US serta Jepang sudah memulai rezim kenaikan suku bunga acuan,” ujar Huda dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2026).
Daya Dorong Ekonomi Dinilai Melemah
Untuk kondisi domestik, Celios memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 hanya mampu berada di sekitar 4,7 persen. Huda menyebut sejumlah faktor berpotensi membatasi ekspansi ekonomi, mulai dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan biaya produksi hingga tekanan terhadap konsumsi masyarakat.
Selain itu, berakhirnya sebagian dorongan dari sektor konstruksi melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dinilai turut mengurangi sumber pertumbuhan ekonomi.
Huda menilai belanja pemerintah yang selama dua tahun terakhir menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi juga mulai menghadapi keterbatasan. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya penyesuaian sejumlah program perlindungan sosial serta meningkatnya kewajiban pembayaran utang di tingkat desa.
“Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2027 paling tinggi berada di angka 4,7 persen karena tidak ada lagi mesin pengungkit pertumbuhan ekonomi tahun depan setelah pengeluaran pemerintah habis digunakan di tahun 2025-2026, ditambah adanya normalisasi program MBG dengan pemotongan anggaran yang signifikan serta dana desa yang tersedot untuk membayar cicilan utang KDKMP kepada bank Himbara,” lanjut Huda.
Inflasi dan Rupiah Jadi Sorotan
Selain pertumbuhan ekonomi, Celios mempertanyakan asumsi pemerintah terkait pengendalian inflasi. Menurut Huda, proyeksi inflasi sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen belum memasukkan secara memadai risiko gangguan cuaca ekstrem.
Salah satu ancaman yang disoroti adalah kemungkinan terjadinya fenomena El-Nino dengan intensitas ekstrem pada penghujung 2026 hingga 2027. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga sejumlah bahan pangan utama.
Celios juga menilai asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS terlalu optimistis. Huda menyebut tekanan terhadap rupiah masih besar akibat arus modal keluar serta meningkatnya permintaan masyarakat terhadap mata uang dolar AS.
Berdasarkan proyeksi Celios, nilai tukar rupiah bahkan berpotensi melemah hingga Rp18.400 per dolar AS.
“Inflasi yang ditargetkan 2,5 persen plus minus 1 persen sangat tidak realistis karena tidak menganggap faktor El-Nino Godzilla yang bisa melambungkan harganpangan dan beras hingga inflasi berpotensi menyentuh 5,74 persen, sementara nilai tukar rupiah kami proyeksikan melorot ke Rp18.400 per USD akibat maraknya capital outflow dan rendahnya kepercayaan investor,” kata Huda.
Pemerintah Tetap Optimistis
Berbeda dengan penilaian Celios, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melihat fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi nasional menjadi modal penting untuk menghadapi risiko dari tingginya suku bunga, ketegangan geopolitik, serta perubahan harga energi dan pangan di pasar global.
Keyakinan tersebut, kata dia, turut didukung oleh performa ekonomi Indonesia pada semester pertama. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,45 persen dan disebut menjadi capaian tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal juga menunjukkan perkembangan positif dengan nilai mencapai Rp1.010,6 triliun.
“Berdasarkan arahan Bapak Presiden, target pertumbuhan ekonomi kita patok sebesar 6 persen dengan laju inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen dan angka kemiskinan ditekan ke level 6 hingga 6,5 persen,” kata Airlangga.(BY)












