Memimpin Di Tengah Badai Kebebasan : Politik Tim Sukses, Hedonisme Kekuasaan, Perang Opini Era Digital

Oleh: Duski Samad
Dekan FTK 2011–2015, Ketua Senat UIN Imam Bonjol Padang 2021-2025

Kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi, menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama secara efektif, bermartabat, dan berkelanjutan.

Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, kekuasaan, atau kedudukan struktural. Banyak orang memiliki jabatan tetapi tidak memiliki kepemimpinan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tidak memiliki jabatan formal namun mampu memengaruhi pikiran, sikap, dan tindakan masyarakat.

Hakikat kepemimpinan bukan terletak pada posisi seseorang, melainkan kemampuannya. Menghadirkan pengaruh positif, membangun kepercayaan, mengarahkan perubahan menuju kebaikan.

Kepemimpinan Kampus: Akal, Moral, dan Peradaban. Tentu, kampus memiliki karakter berbeda dengan kepemimpinan politik, birokrasi, maupun dunia usaha.

Di dunia politik, ukuran keberhasilan sering dikaitkan dengan kemenangan elektoral dan dukungan publik. Di dunia bisnis, ukuran keberhasilan diukur melalui keuntungan, produktivitas, pertumbuhan organisasi.

Di dunia kampus, keberhasilan tidak semata-mata diukur angka, melainkan kualitas ilmu, integritas akademik, dan kontribusi terhadap peradaban.

Kampus bukan sekadar institusi administratif, melainkan komunitas ilmiah (academic community). Dibangun di atas tradisi berpikir kritis, kebebasan akademik, dan pencarian kebenaran.

Seorang pemimpin kampus tidak hanya mengelola gedung, anggaran, program studi, dan sumber daya manusia. Ia sesungguhnya sedang memimpin ekosistem ilmu pengetahuan. Membangun budaya akademik, membentuk karakter generasi masa depan.

Di sinilah letak keunikan kepemimpinan perguruan tinggi. Kampus tidak dapat memimpin dengan pendekatan komando semata. Dosen, kelompok intelektual yang terbiasa berpikir kritis. Mahasiswa, generasi yang penuh idealisme dan energi perubahan. Kepemimpinan itu lebih menuntut keteladanan intelektual daripada kekuasaan struktural.

Seorang rektor, dekan, atau ketua program studi mungkin memiliki kewenangan administratif. Tetapi kewibawaan akademiknya justru ditentukan integritas ilmiah, keluasan wawasan, produktivitas keilmuan, kemampuan membangun dialog.

Dalam konteks ini, bahaya terbesar kepemimpinan kampus bukan hanya korupsi anggaran, juga korupsi akademik. Plagiarisme, manipulasi data, jual beli nilai, komersialisasi pendidikan, dan penyalahgunaan otoritas ilmiah.

Kampus yang kehilangan integritas akademik akan kehilangan ruhnya sebagai pusat pencerahan.

Tantangan lain, semakin nyata itu budaya media sosial yang sering mendorong kampus mengejar popularitas sesaat.Tak sedikit perguruan tinggi, lebih sibuk membangun pencitraan daripada membangun kualitas akademik. Ranking, publikasi, dan akreditasi memang penting. Semua itu harus menjadi konsekuensi dari mutu yang baik, bukan sekadar tujuan administratif.

Pemimpin kampus harus mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan birokrasi modern dan idealisme akademik. Ia harus mampu mengelola institusi secara profesional tanpa kehilangan jiwa keilmuan.

Kampus itu tempat melahirkan ulul albab. Manusia yang memadukan kekuatan pikir, kekuatan dzikir, dan kekuatan amal.

Kepemimpinan kampus yang ideal itu, kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan tiga hal sekaligus. Keunggulan akademik, integritas moral, dan pengabdian sosial.

Kampus besar bukanlah kampus memiliki gedung paling megah atau anggaran terbesar. Melainkan kampus yang mampu melahirkan ilmuwan yang jujur, pemimpin amanah, lulusan memberi manfaat bagi masyarakat.

Memimpin kampus pada hakikatnya bukan sekadar memimpin sebuah institusi pendidikan. Juga memimpin proses lahirnya generasi dan peradaban masa depan.

Kepemimpinan dan Kebebasan.
Setiap zaman melahirkan tantangan kepemimpinan nya sendiri, tak terkecuali kepimimpinan kampus. Jika pada masa lalu seorang pemimpin lebih banyak berhadapan dengan keterbatasan informasi, konflik fisik, persoalan administrasi pemerintahan.

Era digital saat ini, tantangan dihadapi jauh lebih rumit. Seorang pemimpin harus mampu menghadapi krisis multidimensi, sekaligus mengelola kebebasan berkembang tanpa batas, lebih dahsyat lagi pemimpin kampus yang mengurusi intelektual.

Baca Juga  Listyo Sigit Dikritik, Dinilai Lebih Condong ke Politik

Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi. Opini sering mendahului fakta. Emosi sering mengalahkan akal sehat. Hitungan menit seseorang dapat dipuja setinggi langit, lalu pada hari yang sama dijatuhkan ke titik terendah oleh gelombang opini yang beredar di media sosial.

Situasi seperti itu, kepemimpinan bukan lagi sekadar soal kemampuan mengelola organisasi atau menjalankan program kerja. Kepemimpinan telah menjadi ujian karakter, integritas, ketangguhan moral.

Salah satu ujian paling nyata itu hubungan pemimpin dengan tim sukses dan para pendukung. Hampir setiap pemimpin lahir melalui dukungan banyak pihak. Ada relawan bekerja siang malam, ada kelompok memberikan dukungan politik, ada pula jaringan membantu membangun opini publik.

Persoalannya muncul ketika kemenangan dipahami sebagai investasi yang harus dibayar kembali. Jabatan kemudian dipandang sebagai hadiah. Kekuasaan dipersepsikan sebagai ruang berbagi keuntungan. Kedekatan lebih dihargai daripada kompetensi. Loyalitas lebih diprioritaskan daripada profesionalitas.

Ketika hal ini terjadi, pemimpin sesungguhnya sedang memasuki jebakan pertama dalam kepemimpinannya.

Padahal amanah publik tidak boleh dikelola dengan logika balas jasa. Jabatan bukan milik tim sukses. Jabatan, titipan rakyat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat dan di hadapan Allah SWT.

Al-Qur’an mengingatkan “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58).

Keberanian terbesar seorang pemimpin bukanlah keberanian menghadapi lawan politik, melainkan keberanian menolak tekanan kelompok pendukung ketika tekanan tersebut bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Di samping tekanan politik, pemimpin juga menghadapi godaan yang tidak kalah berat, hedonisme kekuasaan. Kekuasaan hampir selalu menghadirkan kenyamanan. Fasilitas bertambah, penghormatan meningkat, akses semakin luas, dan pujian datang dari berbagai arah.

Pada titik tertentu, seorang pemimpin bisa kehilangan kemampuan membedakan antara kebutuhan dan kemewahan.

Ia mulai menikmati simbol-simbol kekuasaan. Hidup dalam lingkaran selalu memuji. Mendengar laporan menyenangkan. Menjauh dari suara rakyat sesungguhnya.

Di sinilah relevansi pandangan Imam Al-Ghazali. Dalam Ihya’ Ulumiddin, ia mengingatkan. Salah satu penyakit paling berbahaya bagi manusia itu cinta kedudukan dan kecanduan pujian. Ketika seseorang lebih mencintai jabatan daripada amanah, kerusakan hanya tinggal menunggu waktu.

Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah bahkan menjelaskan. Kemunduran sebuah peradaban sering kali bermula dari kemewahan para elitnya. Ketika para pemimpin lebih sibuk menikmati hasil daripada memperjuangkan tujuan, daya tahan sosial perlahan melemah.

Pelajaran sejarah ini sangat relevan bagi bangsa manapun. Banyak peradaban runtuh bukan karena serangan musuh dari luar. Tetapi melemahnya integritas dari dalam.

Namun tantangan kepemimpinan modern tidak berhenti pada politik dan hedonisme. Ada tantangan baru semakin dominan itun media sosial.

Media sosial pada dasarnya, anugerah peradaban. Ia membuka ruang partisipasi, mempercepat komunikasi, memperluas akses informasi. Akan tetapi, pada saat yang sama media sosial juga melahirkan ruang manipulasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana sebuah kebohongan dapat berkeliling dunia sebelum kebenaran selesai mengenakan sepatunya.

Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Fitnah sering lebih menarik daripada fakta. Kebencian lebih mudah viral daripada kebijaksanaan.

Fenomena inilah yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai post-truth politics. Keadaan ketika emosi lebih dipercaya daripada fakta.

Situasi seperti itu, pemimpin sering kali dihadapkan pada tekanan opini sangat besar. Kebijakan baik bisa dipersepsikan buruk. Sebaliknya, kebijakan buruk bisa dipoles menjadi prestasi.

Baca Juga  Kapten Klub, Ini Deretan Pemain Timnas Indonesia yang Tampil Memimpin

Media sosial melahirkan apa yang dikenal sebagai framing. Upaya membentuk persepsi publik melalui cara penyajian informasi.

Akibatnya, tidak sedikit pemimpin yang akhirnya menjadi tawanan algoritma. Mereka lebih sibuk memantau tren media sosial daripada memantau kebutuhan masyarakat. Lebih khawatir kehilangan popularitas daripada kehilangan kepercayaan publik.

Padahal ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak pernah ditentukan oleh jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau tingkat viralitas.

Sejarah tidak dibangun oleh mereka yang paling banyak dibicarakan. Tetapi oleh mereka paling banyak memberikan manfaat. Pemimpin harus memiliki keteguhan untuk tetap berpijak pada fakta, hukum, dan nilai moral. Meskipun berhadapan dengan gelombang opini tidak selalu rasional.

Allah SWT memberikan pedoman yang sangat relevan untuk era digital “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya”. (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini sesungguhnya merupakan fondasi literasi digital yang telah diajarkan Islam jauh sebelum lahirnya internet dan media sosial. Akhirnya, seluruh tantangan tersebut bermuara pada satu pertanyaan mendasar. Untuk apa seseorang menjadi pemimpin?

Jika jabatan dipandang sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan, fasilitas, penghormatan, maka kepemimpinan akan berubah menjadi beban penuh konflik.

Namun jika jabatan dipandang sebagai sarana pengabdian, maka setiap tantangan akan menjadi ladang amal dan pengorbanan.

Rasulullah SAW memberikan fondasi sangat jelas ketika menyatakan pemimpin, Pelayan masyarakatnya.

Dari sinilah lahir konsep kepemimpinan profetik yang bertumpu pada empat sifat utama Rasulullah SAW: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Kejujuran menjaga pemimpin dari manipulasi.
Amanah menjaga pemimpin dari penyalahgunaan kekuasaan. Tabligh menjaga pemimpin dari ketertutupan. Fathanah menjaga pemimpin dari kesalahan pengambilan keputusan.

Empat sifat tersebut menjadi semakin penting ketika dunia sedang menghadapi krisis kepercayaan, krisis keteladanan, dan krisis moral.

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang berpendidikan. Tidak kekurangan orang yang mampu berbicara dengan baik.

Sering kita rasakan, kekurangan pemimpin yang mampu menjaga integritasnya ketika berkuasa. Tetap sederhana ketika dihormati. Tetap rendah hati ketika dipuji. Tetap teguh ketika menghadapi tekanan.

Dalam falsafah Minangkabau dikenal petuah “Nan bana tagak sandirinyo, nan salah akan tabayang juo”.

Yang benar akhirnya akan berdiri sendirinya. Yang salah akhirnya akan tampak pula. Tugas pemimpin bukan mengejar viralitas, melainkan menegakkan kebenaran. Bukan memburu popularitas, melainkan menghadirkan kemaslahatan. Bukan memperpanjang kekuasaan, melainkan memperluas pengabdian.

Jabatan boleh berakhir. Kekuasaan boleh berganti. Namun keteladanan dan pengabdian akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat serta catatan sejarah.

Pada akhirnya, pemimpin besar bukanlah mereka paling banyak dilayani. Melainkan paling banyak melayani. Artikel ini sudah berada pada gaya opini koran nasional. Argumentatif, reflektif, memadukan perspektif Islam, pemikiran klasik, dan tantangan kepemimpinan digital kontemporer.(ds.o2o62o26).