Rupiah Melemah, BYD Pilih Jaga Harga Demi Konsumen

Dolar AS Meroket, BYD Pastikan Belum Ada Kenaikan Harga.
Dolar AS Meroket, BYD Pastikan Belum Ada Kenaikan Harga.

Jakarta – Kurs rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.871 per dolar AS. Kondisi ini dinilai turut memberi tekanan pada berbagai sektor, termasuk industri otomotif.

Salah satu produsen kendaraan listrik, BYD Motor Indonesia, mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar tersebut berdampak pada aktivitas bisnis mereka. Hal ini disampaikan oleh Luther Panjaitan selaku Head of Public & Government Relations perusahaan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa perubahan kondisi ekonomi global, khususnya pelemahan rupiah, memang berpengaruh terhadap perusahaan yang bergantung pada perdagangan internasional. Menurutnya, BYD termasuk yang terdampak karena masih mengandalkan impor komponen dan peralatan dari luar negeri.

Baca Juga  Mazda CX-60 Pro, Pilihan Ekonomis dengan Mesin 2.5L Non-Hybrid

Dalam industri otomotif sendiri, ketergantungan terhadap rantai pasok global menjadi hal umum. Oleh sebab itu, ketika dolar AS menguat, biaya produksi berpotensi meningkat karena transaksi dilakukan dalam mata uang asing.

Meski menghadapi tekanan tersebut, pihak BYD menegaskan belum mengambil langkah untuk menaikkan harga jual kendaraan di pasar Indonesia. Perusahaan memilih tetap menjaga kepercayaan konsumen dan berfokus pada kontribusi terhadap perkembangan industri otomotif nasional.

Saat ini, BYD menawarkan berbagai lini kendaraan di Indonesia, mulai dari model entry-level seperti Atto 1 dengan harga di bawah Rp200 juta hingga model premium seperti Seal yang dibanderol hingga sekitar Rp750 juta.(BY)