Profil Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Republik Islam Iran

Mojtaba Hosseini Khamenei.
Mojtaba Hosseini Khamenei.

JakartaMojtaba Hosseini Khamenei, lebih dikenal sebagai Mojtaba Khamenei, resmi diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Pengumuman resmi disampaikan oleh Majelis Ahli, lembaga ulama tertinggi Iran, pada Senin (9/3/2026) dini hari.

Penunjukan ini terjadi sekitar sepekan setelah Ali Khamenei dilaporkan meninggal akibat serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Dengan keputusan tersebut, Mojtaba kini memegang posisi tertinggi dalam struktur pemerintahan Iran.

Sebelum pengumuman resmi, sejumlah nama sempat muncul sebagai kandidat kuat, termasuk Alireza Arafi, ulama garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.

Namun, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama senior akhirnya memilih Mojtaba sebagai pemimpin baru. Sepanjang sejarahnya, lembaga ini hanya dua kali mengawasi suksesi kepemimpinan: pertama pada 1989 saat Ali Khamenei menggantikan Ruhollah Khomeini, dan kini saat Mojtaba mengambil alih posisi ayahnya.

Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota suci di timur Iran, dan merupakan salah satu dari enam anak Ali Khamenei. Meski berasal dari keluarga pemimpin tertinggi, ia dikenal tertutup dan jarang tampil di publik. Selama ini, Mojtaba lebih dikenal sebagai ulama tingkat menengah, namun sejak lama disebut-sebut sebagai calon penerus kepemimpinan ayahnya.

Baca Juga  Profil Irjen Pol Djoko Poerwanto, Kapolda Sederhana dengan Harta Minim

Di antara anak-anak Ali Khamenei, Mojtaba adalah satu-satunya yang aktif dalam kegiatan publik, meski tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan. Dengan janggut beruban dan sorban hitam yang menandai garis keturunan Nabi Muhammad, ia memiliki pengaruh signifikan di lingkar kekuasaan Iran.

Mojtaba juga dikenal dekat dengan kelompok konservatif, terutama Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kekuatan militer ideologis utama negara. Kedekatan ini bermula saat ia terlibat dalam unit tempur pada fase akhir Perang Iran-Irak (1980–1988).

Pemerintah Amerika Serikat telah menaruh perhatian pada Mojtaba sejak lama. Pada 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepadanya karena dianggap mewakili kepentingan pemimpin tertinggi Iran, meski tidak memegang jabatan resmi selain di kantor ayahnya. AS menyebut Mojtaba memiliki peran signifikan dalam kebijakan domestik dan ambisi regional Iran, termasuk dugaan keterlibatannya dalam penindakan demonstrasi besar pada 2009.

Laporan Bloomberg yang mengutip sumber anonim dan intelijen Barat menyebut Mojtaba memiliki kekayaan lebih dari 100 juta dolar AS, diperoleh dari aliran pendapatan minyak yang diinvestasikan dalam properti mewah di Inggris, hotel di beberapa negara Eropa, serta aset di Dubai melalui jaringan perusahaan cangkang.

Baca Juga  Helikopter Jatuh, Nasib Presiden Iran dan 8 Lainnya Belum Diketahui

Dalam bidang keagamaan, Mojtaba menempuh pendidikan teologi di Qom, selatan Teheran, dan pernah mengajar ilmu agama. Ia menyandang gelar Hujjat al-Islam, tingkat ulama menengah di bawah Ayatollah.

Dalam serangan yang menewaskan Ali Khamenei, istri Mojtaba, Zahra Haddad-Adel, putri mantan ketua parlemen Iran, juga dilaporkan menjadi korban. Sementara itu, Israel mengeluarkan peringatan keras terhadap kepemimpinan baru Iran, menyatakan akan terus menarget siapa pun yang menjadi penerus pemimpin tertinggi maupun pihak yang berperan dalam penunjukannya.(des*)