Dari Nagari ke Jantung Jakarta, Darak Rantak Menolak Budaya Minang Terkubur Zaman

Jakarta – Di tengah hiruk pikuk modernitas Jakarta yang nyaris menenggelamkan suara tradisi, dentuman talempong dan hentakan kaki penari Minangkabau justru mengguncang kawasan Dukuh Atas, Minggu (8/2/2026).

Sanggar Darak Rantak Nagari Malai III Koto, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat hadir bukan sekadar tampil, tetapi membawa perlawanan sunyi terhadap ancaman pudarnya warisan budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

Sanggar binaan Hazairin, S.Pd dan Yusalman itu melangkah ke panggung nasional dengan satu tekad: membuktikan bahwa seni tradisional Minangkabau bukan artefak masa lalu yang menunggu dilupakan. Di tengah dominasi budaya populer modern, para seniman muda nagari memilih berdiri tegak mempertahankan identitas leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Dipimpin Ketua Sanggar Sri Malindra bersama Sekretaris Wira Devi serta didukung official Mitra Susanto dan M. Ilham, SH, rombongan seniman muda tampil dengan keyakinan penuh. Mereka membawa lebih dari sekadar pertunjukan, tetapi harga diri budaya yang selama ini tumbuh dari tanah nagari dan kini menantang panggung ibu kota.

Ketika atraksi Indang mulai menggema, nilai religius dan semangat kebersamaan masyarakat Minangkabau terasa mengalir kuat.

Tari Pasambahan yang sarat makna penghormatan adat menyentuh sisi emosional penonton, sementara hentakan Tari Piring yang enerjik memacu adrenalin.

Keindahan Tari Payuang dalam konsep Sukaria menjadi penutup yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menggetarkan perasaan penonton.

Tepuk tangan panjang dan sorakan yang menggema di tengah keramaian kota menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati masyarakat modern.

Penampilan itu bukan hanya hiburan, melainkan pengingat keras bahwa budaya daerah adalah jati diri bangsa yang tak boleh kalah oleh gemerlap zaman.

Keikutsertaan Sanggar Darak Rantak menjadi momentum penting bagi promosi budaya Padang Pariaman di tingkat nasional.

Mereka membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui wacana dan seremoni, tetapi membutuhkan keberanian generasi muda untuk tampil, berjuang, dan menunjukkan kebanggaan terhadap akar identitasnya.

Pagelaran seni budaya reguler yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi ruang pertemuan berbagai budaya Nusantara. Dari panggung ini, keberagaman seni Indonesia bersatu, memperlihatkan bahwa perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan yang memperkaya bangsa.

Langkah para seniman muda Nagari Malai III Koto menjadi pesan emosional yang kuat. Budaya hanya akan mati jika generasinya berhenti memperjuangkannya.

Dari sudut nagari hingga pusat ibu kota, Darak Rantak menunjukkan bahwa tradisi Minangkabau bukan sekadar kenangan, tetapi napas yang harus terus hidup dalam denyut perjalanan bangsa.(ssc).