Jakarta – Industri sepeda motor nasional menutup tahun 2025 dengan capaian yang relatif solid, meski kondisi ekonomi membuat daya beli masyarakat cenderung melemah. Berdasarkan catatan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), total penjualan sepeda motor di pasar domestik sepanjang 2025 mencapai 6.412.769 unit, atau meningkat sekitar 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut sejalan dengan target awal yang dipatok di kisaran 6,4 hingga 6,7 juta unit. Hal ini memperlihatkan bahwa sepeda motor masih menjadi moda transportasi paling rasional bagi masyarakat Indonesia, terutama untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, menyebutkan bahwa rata-rata penjualan bulanan berada di angka sekitar 535 ribu unit. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan roda dua yang dinilai praktis, ekonomis, dan fleksibel, baik untuk bekerja maupun menunjang gaya hidup.
“Motor tetap menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat karena efisien dan mudah diakses,” ujar Sigit dalam keterangan pers, Jumat (9/1/2026).
Skutik Masih Jadi Raja Pasar
Dari sisi jenis kendaraan, skuter matik (skutik) masih memimpin pasar dengan porsi mencapai 91,7 persen dari total penjualan. Sisanya ditempati motor underbone sebesar 4,46 persen, motor sport 3,51 persen, sementara sepeda motor listrik masih berada di bawah 1 persen.
Dominasi skutik menunjukkan kecenderungan konsumen yang semakin mengutamakan kenyamanan dan kemudahan berkendara. Karakteristiknya yang cocok untuk penggunaan harian di wilayah perkotaan maupun pinggiran kota menjadikan segmen ini terus diminati lintas usia dan kelas ekonomi.
Peran Besar Lembaga Pembiayaan
Stabilnya pasar pada 2025 tidak lepas dari kontribusi sektor pembiayaan. Sekitar 65 persen transaksi pembelian sepeda motor dilakukan melalui skema kredit. Hal ini menegaskan pentingnya peran lembaga keuangan dalam menjaga denyut pasar tetap bergerak.
Sigit menuturkan bahwa pelemahan daya beli, khususnya di kalangan menengah, mendorong masyarakat memilih sepeda motor sebagai alat utama untuk menunjang aktivitas ekonomi produktif. Kondisi tersebut membuat pasar tetap bertahan, meski pertumbuhannya tidak terlalu tinggi.
Luar Jawa Jadi Penopang
Dari aspek wilayah, permintaan di luar Pulau Jawa menjadi penyeimbang atas penurunan penjualan di Jawa. Sejumlah sektor industri di Jawa mengalami tekanan sepanjang 2025, bahkan beberapa perusahaan harus melakukan pengurangan tenaga kerja, yang berdampak pada konsumsi.
Sebaliknya, daerah di luar Jawa menunjukkan tren positif. Selain itu, strategi pelaku industri dalam meluncurkan produk-produk baru turut membantu menjaga minat pasar. Gelaran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025 di ICE BSD pada 24–28 September misalnya, mencatat 103.789 pengunjung dengan transaksi lebih dari 1.500 unit senilai sekitar Rp70 miliar.
Kinerja Ekspor Terus Meningkat
Di sektor ekspor, industri sepeda motor Indonesia juga mencatatkan performa menggembirakan. Sepanjang 2025, anggota AISI mengekspor 544.133 unit motor dalam bentuk utuh (CBU), 8.139.894 set dalam bentuk terurai (CKD), serta 138.455.487 komponen suku cadang.
Angka tersebut mencerminkan daya saing produk sepeda motor buatan Indonesia di pasar internasional yang terus menguat.
Tantangan dan Outlook 2026
Memasuki 2026, AISI mengidentifikasi sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi pasar. Salah satunya adalah penerapan pajak opsen kendaraan oleh beberapa pemerintah daerah sejak awal tahun. Kebijakan ini dikhawatirkan dapat menekan minat beli masyarakat.
“Kami memahami kebutuhan daerah untuk meningkatkan pendapatan. Namun, kami berharap jika ada kenaikan opsen, dapat diimbangi dengan kebijakan yang tidak memberatkan pajak kendaraan, agar tidak berdampak langsung pada permintaan,” kata Sigit.
Selain itu, dinamika geopolitik global, pertumbuhan ekonomi nasional, fluktuasi harga komoditas, hingga faktor cuaca juga diperkirakan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat sepanjang tahun ini.
Meski demikian, AISI tetap optimistis pasar sepeda motor domestik pada 2026 akan bergerak stabil di rentang 6,4 hingga 6,7 juta unit, sama seperti proyeksi tahun sebelumnya.
“Dengan dukungan industri pembiayaan yang tetap kuat, kami yakin pasar sepeda motor nasional tahun ini masih dapat terjaga,” pungkas Sigit.(BY)












