Keracunan Massal MBG, Pakar Sarankan Audit Katering dan Uji Bakteri Penyebab

Ribuan anak keracunan MBG, dokter gizi tekankan agar investigasi segera dilakukan.
Ribuan anak keracunan MBG, dokter gizi tekankan agar investigasi segera dilakukan.

Jakarta – Jumlah kasus keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data per 21 September 2025, total kasus sudah mencapai 6.452, atau bertambah 1.092 kasus dibandingkan pekan sebelumnya (14 September) yang tercatat 5.360 kasus.

Lima provinsi mencatatkan jumlah kasus tertinggi, yaitu:

Jawa Barat: 2.012 kasus

DI Yogyakarta: 1.047 kasus

Jawa Tengah: 722 kasus

Bengkulu: 539 kasus

Sulawesi Tengah: 446 kasus

Ahli Gizi Minta Investigasi Menyeluruh

Dokter gizi klinis, Johannes Chandrawinata, menilai peningkatan kasus ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Ia menekankan pentingnya penyelidikan mendalam untuk menemukan penyebab utama keracunan massal yang dialami siswa penerima MBG.

“Lonjakan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam rantai penyediaan makanan. Perlu investigasi menyeluruh agar sumber masalah bisa diidentifikasi,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (24/9).

Menurut Johannes, keracunan massal bisa dipicu oleh banyak faktor — mulai dari bahan makanan yang sudah tidak segar, proses memasak yang kurang tepat, hingga kontaminasi selama pendistribusian.

Pentingnya Standar Keamanan Pangan

Ia menegaskan, penyedia katering skala besar seharusnya menerapkan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points), sebuah sistem yang digunakan untuk mengidentifikasi titik kritis dan mencegah kontaminasi sejak awal.

“Jika bahan yang datang dari pemasok tidak segar, seharusnya langsung ditolak. Itu salah satu cara memutus rantai masalah sebelum terjadi,” jelasnya.

Johannes menambahkan, setiap tahap — mulai dari penyimpanan, pengolahan, hingga pembagian makanan — harus memiliki prosedur pencegahan agar makanan tetap aman dikonsumsi.

Faktor Higiene Jadi Sorotan

Selain kualitas bahan, kebersihan para petugas katering juga berperan besar. Ia menekankan pentingnya cuci tangan yang benar, penggunaan penutup kepala, masker, dan pakaian khusus saat menyiapkan makanan.

Makanan berbahan daging atau ikan harus dimasak hingga matang sempurna untuk mematikan bakteri. Setelah itu, makanan perlu ditempatkan di wadah yang bersih, ditutup rapat, dan diangkut dengan kendaraan yang higienis.

Johannes juga mengingatkan agar makanan yang sudah dimasak tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. “Idealnya dikonsumsi dalam waktu kurang dari enam jam setelah dimasak. Semakin cepat, semakin kecil risiko terkontaminasi,” katanya.

Investigasi Diperlukan

Meski indikasi utama mengarah pada masalah kebersihan, Johannes menegaskan perlunya pemeriksaan laboratorium untuk memastikan jenis bakteri yang menyebabkan keracunan. Dengan mengetahui penyebab pasti, langkah pencegahan bisa lebih tepat sasaran.

“Investigasi mendetail sangat penting agar kita tahu bakteri atau sumber kontaminasi apa yang memicu kasus ini,” pungkasnya.(BY)