Padang  

Kualitas Udara Memburuk, PJJ Jadi Opsi di Padang

Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion.
Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion.

Padang — Kabut asap kembali menyelimuti Kota Padang dan sejumlah wilayah di Sumatera Barat. Kondisi tersebut turut menyebabkan kualitas udara mengalami penurunan, dengan indeks yang berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.

Situasi ini menimbulkan perhatian, khususnya terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah. Paparan udara yang tercemar dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan anak-anak.

Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, meminta Pemerintah Kota Padang segera mengambil langkah antisipasi menyikapi kondisi tersebut. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan pendidikan di tengah kabut asap.

Ia mendorong Pemko Padang menyiapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai alternatif apabila kualitas udara terus memburuk dan tidak memungkinkan kegiatan belajar tatap muka berlangsung dengan aman.

“Yang kita kasihani itu pelajar. Jika kabut asap membahayakan, terpaksa kita minta pemko untuk meliburkan sekolah, dan pembelajaran dilaksanakan secara pembelajaran jarak jauh (PJJ),” ujar Muharlion.

Muharlion menilai pemerintah tidak perlu menunggu kondisi udara mencapai tingkat yang sangat berbahaya untuk mengambil keputusan. Jika data dari lembaga terkait telah menunjukkan adanya potensi risiko terhadap kesehatan, langkah pencegahan dinilai perlu segera dilakukan.

Baca Juga  Partisipasi Pilgub Sumbar 57%, Mahyeldi Tetap Dominan

Sementara itu, kabut asap yang menyelimuti Padang dan wilayah sekitarnya diduga tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran lahan di Sumatera Barat. Kondisi cuaca dan arah angin regional turut berperan dalam membawa asap dari wilayah lain di Pulau Sumatera.

Ketua Tim Publikasi dan Diseminasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan hasil pemantauan satelit menunjukkan jumlah titik panas di Sumatera Barat relatif sedikit.

“Untuk di Sumbar pantauan terakhir terdapat hotspot hanya satu lokasi di Dharmasraya, sedangkan untuk titik panas signifikan terpantau di Sumsel dan Jambi, dengan arah angin dari tenggara yang menjadi sumber utama asap,” kata Yudha, Rabu (7/10/2026).

Ia menjelaskan, arah dan pola pergerakan angin sangat berpengaruh terhadap penyebaran asap. Karena itu, BMKG terus memantau perubahan arah angin serta perkembangan titik panas di sejumlah provinsi yang berada di sekitar Sumatera Barat.

Dengan kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori sedang hingga tidak sehat, BMKG Minangkabau mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker sebagai upaya mengurangi paparan udara tercemar.

Baca Juga  Gubernur hingga DPR RI Dukung Penuh Pembangunan Tol Bukittinggi–Padang Panjang–Sicincin

BMKG juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui penyampaian informasi mengenai perkembangan titik panas serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Data tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah menentukan langkah penanganan dan perlindungan masyarakat secara cepat dan tepat.

Di tengah kondisi kualitas udara yang belum stabil, perlindungan terhadap anak-anak perlu menjadi perhatian utama. Apabila tingkat pencemaran udara semakin membahayakan kesehatan, penghentian sementara pembelajaran tatap muka dan penerapan PJJ dapat menjadi langkah untuk meminimalkan risiko terhadap para pelajar.(des*)