Mediasi Pakistan Tak Berhasil, Perundingan Iran–AS Kembali Berakhir Tanpa Hasil

AS dan Iran Bahas Perdamaian di Islamabad, JD Vance Temui PM Pakistan.
AS dan Iran Bahas Perdamaian di Islamabad, JD Vance Temui PM Pakistan.

Jakarta – Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Pakistan dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan. Kedua negara kemudian saling menuduh atas kegagalan negosiasi tersebut.

Sebagai catatan, ketegangan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, yang merupakan Ali Khamenei.

Iran kemudian melakukan serangan balasan ke Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Konflik ini disebut telah menyebabkan 2.076 orang tewas dan sekitar 26.500 orang terluka di wilayah Iran.

Di sisi lain, serangan balasan Iran juga menimbulkan korban di Israel, dengan 26 orang dilaporkan tewas dan 7.451 lainnya terluka. Selain itu, 13 tentara AS tewas dan sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka.

Mengutip laporan CNN, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa perundingan panjang yang berlangsung tidak menghasilkan kesepakatan damai permanen untuk menghentikan konflik.

Ia mengatakan diskusi intensif selama 21 jam telah dilakukan dengan pihak Iran, namun belum membuahkan hasil.

Baca Juga  Proposal 15 Poin dari AS untuk Iran, Nasibnya Masih Tanda Tanya

“Ini kabar baiknya, kami telah melakukan pembahasan substansial. Namun kabar buruknya, tidak ada kesepakatan yang tercapai,” ujarnya dalam konferensi pers di Islamabad.

Vance menilai kegagalan tersebut lebih merugikan Iran dibandingkan AS, dan pihaknya memutuskan kembali tanpa hasil kesepakatan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut bahwa pembicaraan berlangsung cukup intens. Namun ia menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan.

Ia juga meminta AS untuk tidak mengajukan tuntutan yang dianggap berlebihan dan tidak sesuai hukum internasional, serta menghormati hak dan kepentingan Iran, termasuk terkait program nuklir dan Selat Hormuz.

Dari pihak AS, tudingan muncul bahwa Iran belum memberikan jaminan untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Vance menegaskan bahwa AS menginginkan komitmen jelas agar Iran tidak mengarah pada pengembangan senjata nuklir di masa depan.

Ia juga menambahkan bahwa AS tetap menginginkan Iran menghentikan potensi pengembangan senjata nuklir secara jangka panjang.

Di sisi lain, Donald Trump disebut tetap mendorong negosiasi dengan pendekatan yang dianggap fleksibel, meski hingga kini belum ada kemajuan berarti.

Baca Juga  Konflik Memuncak, Serangan Rudal Iran Picu Krisis Baru

Sementara itu, media Iran, Fars News Agency, menyebut kegagalan kesepakatan terjadi karena perbedaan tuntutan yang dinilai terlalu jauh antara kedua pihak. Beberapa isu utama yang menjadi perdebatan meliputi Selat Hormuz, program nuklir damai Iran, serta berbagai kepentingan strategis lainnya.

Laporan tersebut juga menyebut adanya mediator dari Pakistan yang berupaya menjembatani perbedaan pandangan kedua negara.

Namun hingga saat ini, belum ada jadwal pasti mengenai kelanjutan perundingan, setelah masing-masing delegasi kembali melakukan konsultasi internal terkait rancangan kesepakatan yang dibahas.(des*)