Prof.Dr.Asril,S.Sn,M.Hum
Padang Panjang – Tak banyak yang percaya, seorang penjahit kampung bisa menembus tembok tebal dunia akademik bernama Profesor. Namun Asril membuktikan bahwa takdir tak selalu tunduk pada garis kemiskinan.
Dari denting mesin jahit di sudut Kota Padang, Asril menjahit masa depannya sendiri. Hingga berdiri sebagai guru besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.
Di masa remaja, Asril hidup tak pernah ramah padanya. Tahun 1970-an menjadi saksi getir. Sang ayah tercintanya bernama Sidi Muchtar pergi untuk selamanya.
Ibunya Nurma bertahan tanpa penghasilan untuk menghidupi anak-anaknya. Dan, masa depan Asril terasa seperti kabut tebal di depan mata.
Tak ada mimpi besar, bahkan sekadar melanjutkan sekolah pun terasa nyaris mustahil. Namun justru dari keterbatasan itulah, tekad Asril diam-diam tumbuh, liar dan tak bisa dipatahkan.
Alinea lain dalam hidupnya, Asril justru dimulai dari jarum dan benang. Bersama kakaknya, Ajo Jali penjahit langganan pejabat penting Sumatera Barat ketika itu. Seperti Harun Zain dan Azwar Anas serta sejumlah pejabat di Rumah Bogonjong itu jadi langganan jahitan pakaian.
Asril tak pelak lagi, terus mengasah belajar menjahit hingga menjadi profesional. Di balik kesibukan itu, tak ada yang tahu, ia juga sedang “menjahit” mimpinya sendiri, perlahan tapi pasti.
Namun jalan hidupnya berubah arah oleh kalimat sederhana dari seorang sahabat dekat sekampung bercakap motivasi. “Kamu Asril harus kuliah.”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong terdengar oleh Asril. Termasuk motivasi dari Mak Andah sebutan akrab Taheruddin oleh para Kamanakannya. Mamak kandungnya ini pernah Guru, Wali Nagari dan anggota DPRD Padang Pariaman itu.
Ia yang sempat menyerah, kembali menyalakan harapan. Dengan segala keterbatasan, Asril anak kedua dari empat bersaudara itu, akhirnya melangkah ke dunia kampus. Sebuah dunia yang sebelumnya hanya ia bayangkan dari kejauhan.
Pada tahun 1986, Asril. menamatkan pendidikan di ASKI Padang Panjang, yang sebelumnya menempuh pendidikan di PGAN 4 tahun Padusunan dan MAN Gunuang Pangilun, Padang.
Ia tak menyangka bahwa setahun kemudian 1987, takdir membawanya kembali ke kampus yang sama. Bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai dosen muda di almamaternya sendiri.
Dari Kampus ASKI Padang Panjang sana, perjalanan panjang dimulai. Asril yang berstatus PNS Dosen itu menapaki tangga akademik dengan riset, karya, dan dedikasi tanpa henti.
Bahkan, ia pernah meraih predikat Dosen Teladan I Nasional yang dianugerahi Pemerintah diserahkan oleh Menko Kesra Azwar Anas, dan sempat kembali peraih Dosen Teladan 2 yang diserahkan oleh Mendikbud Wardimam Djoyodinegoro.
Hingga Asril ikut berjuang merubah status dari ASKI menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), dan berobah status lagi ke Perguruan Tinggi bernama ISI.
Tak sampai disitu, Asril terus mengajar bidang Seni Pertunjukan. Sekaligus melakukan penelitiannya tentang seni pertunjukan lainnya. Termasuk Tabuik di Pariaman yang mengguncang wacana akademik.
Ia membedah bagaimana ritual yang berakar dari tradisi alkisah Hasan Husein di tanah Persia sana, bisa hidup dan diterima dalam masyarakat Piaman yang mayoritas Sunni.
Dengan pendekatan teori budaya yang tajam, ia membuka ruang diskusi baru tentang identitas, negosiasi budaya, dan dinamika tradisi.
Asril mempunyai prinsip “motto” yang sangat sederhana saja bagaikan “Air mengalir tetap dilalui meskipun onak dan duri, cita-cita menuju muara harus diwujudkan”, kata Asril bercerita kepada awak media ini.
Ia mengaku termasuk orang yang tidak suka ngotot, memaksakan diri akan sesuatu tujuan. Tetapi tetap dijalani dengan penuh semangat, ikhtiar, sembari tetap bermunajat kepada Allah SWT.
Asril putra Sungai Pasak Pariaman kelahiran 20 Mei 1961 itu meyakini sepenuhnya, takdir telah digariskan Allah untuk setiap makhluknya.
Namun demikian harus berusaha mewujudkan walaupun beraham halangan dan rintangan akan situasi, kondisi yang dilalui pribadi manusia itu sendiri.
Kini, nama Asril berdiri sejajar dengan para guru besar lainnya yang diresmikan pengukuhan pada Rabu, 8 April 2026 di Kampus ISI Padang Panjang dihadapan sidang Senat Terbuka dipimpin Rektor Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum.
Ia menjadi profesor kelima dari rahim kampusnya sendiri, melengkapi deretan akademisi seperti Mahdi Bahar, Daryusti, dan Andar Indra Sastra.
Dari mesin jahit ke podium ilmiah, kisahnya bukan sekadar inspirasi. Melainkan tamparan keras bagi siapa pun yang masih percaya bahwa kemiskinan adalah akhir dari segalanya.(ssc).












