Jakarta – Kelompok Hizbullah mengecam keras serangan terbaru yang dilancarkan Israel. Kecaman tersebut sejalan dengan pernyataan pemerintah Lebanon yang juga mengutuk tindakan rezim Zionis tersebut.
Hizbullah menuding militer Israel kerap menyasar warga sipil ketika gagal mencapai target militer mereka, yakni upaya pelucutan senjata kelompok tersebut.
Di sisi lain, posisi Hizbullah disebut berada dalam situasi yang cukup sulit karena mereka masih bergantung pada dukungan Iran untuk mendorong terwujudnya gencatan senjata di Lebanon.
Iran menyatakan bahwa perluasan gencatan senjata hingga mencakup Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan yang ada. Namun, Israel membantah hal tersebut. Presiden AS Donald Trump juga disebut menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Dalam situasi konflik yang terus berlangsung, Hizbullah masih melancarkan serangan roket ke wilayah perbatasan dan berupaya memperlambat serangan darat Israel di Lebanon selatan. Meski demikian, Israel disebut masih memiliki keunggulan militer, terutama dalam penguasaan wilayah udara, yang memungkinkan mereka melancarkan serangan besar dan memberi tekanan kuat terhadap Lebanon.
Hizbullah masih berharap pada pengaruh Iran untuk meredakan ketegangan di front tersebut, namun hingga kini upaya itu belum membuahkan hasil meskipun ada sejumlah pernyataan dari pejabat Iran.
Sementara itu, militer Lebanon melaporkan bahwa empat tentaranya termasuk di antara lebih dari 200 korban jiwa akibat serangan Israel pada Rabu (8/4/2026).
Serangan tersebut terjadi meskipun sebelumnya telah diberlakukan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, gencatan senjata itu diperdebatkan apakah juga mencakup wilayah Lebanon.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut bahwa gencatan senjata seharusnya diperluas hingga ke Lebanon dan menegaskan bahwa kelompok Hizbullah perlu melucuti senjata.
Ia juga menilai bahwa tindakan militer Israel memberikan tekanan besar terhadap kesepakatan gencatan senjata. Menurutnya, serangan dengan korban besar tersebut sulit dianggap sebagai bentuk pembelaan diri semata.
Kementerian Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyampaikan bahwa jumlah korban akibat serangan udara Israel yang terjadi serentak di Beirut dan sejumlah wilayah lainnya pada Rabu terus meningkat. Hingga kini, tercatat lebih dari 203 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka.
Sebelumnya, data kementerian mencatat 182 korban tewas dan sekitar 890 orang terluka sebelum angka tersebut diperbarui.(des*)












