Pemerintah Bidik Pendapatan Tambahan dari Komoditas, Skema Royalti dan Bea Keluar Disiapkan

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan saldo uang pemerintah yang tersisa di BI saat ini Rp120 triliun.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan saldo uang pemerintah yang tersisa di BI saat ini Rp120 triliun.

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan posisi kas pemerintah di Bank Indonesia saat ini mencapai Rp120 triliun, sementara total saldo pemerintah secara keseluruhan masih sebesar Rp420 triliun.

Purbaya menegaskan bahwa defisit anggaran tetap terjaga di bawah ambang aman 3 persen melalui kombinasi efisiensi belanja dan pemanfaatan cadangan kas. Pemerintah juga rutin melakukan simulasi skenario harga minyak, termasuk jika harga rata-rata minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun.

“Yang penting bukan berapa tambahannya, tapi bagaimana kita bisa mengambil langkah-langkah pengamanan di berbagai sektor. Dengan asumsi harga minyak rata-rata 100 dolar per barel sampai akhir tahun, defisit APBN masih bisa dikendalikan di bawah 3 persen. Saat ini outlook-nya sekitar 2,92 persen,” ujar Purbaya usai rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).

Selain itu, pemerintah masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang cukup besar sebagai bantalan jika harga minyak melonjak ekstrem hingga 150 dolar AS. Dari total Rp420 triliun, sekitar Rp300 triliun telah dialokasikan ke bank Himbara dan pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan rincian Rp200 triliun awalnya digelontorkan ke lima bank Himbara, kemudian ditambahkan lagi Rp100 triliun.

Baca Juga  Jadwal Lengkap Seleksi PPPK 2024 Diumumkan BKN

“Uangnya masih ada. Jangan bilang tinggal Rp200 triliun. Masih Rp420 triliun. Saya tambah Rp100 triliun lagi, jadi Rp300 triliun, sementara Rp120 triliun masih berada di BI. Pajak juga akan masuk lagi. Yang penting, manajemen kas dijalankan sehingga tidak mengganggu suplai uang di pasar,” jelas Purbaya.

Dari sisi moneter, indikator menunjukkan performa yang solid. Pertumbuhan uang inti (M0) berada di angka 19 persen, yang diharapkan mendorong pertumbuhan kredit perbankan hingga lebih dari 22 persen, menandakan aktivitas ekonomi riil terus berlangsung.

Selain efisiensi belanja, pemerintah juga menargetkan tambahan pendapatan dari sektor komoditas. Saat ini, Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Kementerian ESDM menyiapkan skema baru terkait royalti dan bea keluar untuk memanfaatkan potensi windfall akibat kenaikan harga komoditas global.

Baca Juga  April 2025, Bulog Lampaui Rata-Rata Serapan Tahunan Beras Nasional

“Nanti ada penyesuaian skema dari tim teknis Kementerian Keuangan dan ESDM. Mungkin besok akan mulai dijelaskan mengenai bea keluar, royalti, dan lain-lain. Yang pasti, ada potensi tambahan pendapatan yang signifikan,” tutup Purbaya.(BY)