Purbaya Yudhi, Pengelolaan Kas dan Skema Baru Royalti Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Begini Jurus Purbaya Jaga Defisit APBN di Bawah 3% Meski Harga Minyak USD100.
Begini Jurus Purbaya Jaga Defisit APBN di Bawah 3% Meski Harga Minyak USD100.

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi bertingkat untuk menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Meski dihadapkan pada potensi kenaikan harga minyak dunia, Purbaya memastikan defisit APBN tetap berada di bawah ambang batas aman 3% melalui kombinasi efisiensi belanja dan pemanfaatan cadangan kas.

Menurut Purbaya, pemerintah secara rutin menjalankan simulasi dengan berbagai skenario harga minyak, termasuk jika harga rata-rata mencapai USD100 per barel hingga akhir tahun.

“Yang penting bukan soal jumlahnya, tapi bagaimana kita bisa mengambil langkah pengamanan di berbagai sektor. Dengan asumsi harga minyak dunia rata-rata USD100 per barel sampai akhir tahun, defisit APBN tetap bisa dikendalikan di bawah 3 persen. Saat ini outlook-nya sekitar 2,92 persen,” kata Purbaya usai menghadiri rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).

Terkait anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, Menkeu menekankan bahwa pemerintah masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang cukup besar sebagai bantalan jika harga minyak melonjak ekstrem, misalnya menembus USD150 per barel.

Baca Juga  Benarkah Utang Pinjol Hangus Setelah 90 Hari? Ini Faktanya

Purbaya juga meluruskan persepsi publik terkait posisi kas negara di Bank Indonesia. Ia menegaskan bahwa pengelolaan kas dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu suplai uang di pasar, namun tetap memastikan ketersediaan dana untuk belanja negara.

“Uangnya masih ada. Jangan bilang tinggal 200 triliun, sebenarnya masih 420 triliun. Saya tambah 100 triliun lagi, jadi total 300–120 triliun masih di BI. Pajak juga akan masuk lagi. Intinya, manajemen kas dijalankan sedemikian rupa sehingga suplai uang di pasar tetap terjaga,” jelasnya.

Dari sisi moneter, Purbaya menilai indikator saat ini menunjukkan kondisi yang solid. Pertumbuhan uang inti (M0) mencapai 19 persen, yang diharapkan mendorong pertumbuhan kredit perbankan di atas 22 persen, menandakan aktivitas ekonomi riil terus berlangsung.

Baca Juga  Pemkab Pasbar Ikuti Sosialisasi Transparansi Pengelolaan Anggaran

Selain upaya efisiensi, pemerintah juga mengincar tambahan pendapatan dari sektor komoditas. Kementerian Keuangan bersama Kementerian ESDM tengah menyiapkan skema baru terkait royalti dan bea keluar untuk memaksimalkan potensi windfall akibat kenaikan harga komoditas global.

“Nanti akan ada penyesuaian skema oleh tim teknis Kementerian Keuangan dan ESDM, termasuk soal bea keluar dan royalti. Yang pasti, ada peluang tambahan pendapatan yang cukup signifikan,” tutup Purbaya.(BY)