Trump Tarik Diri Perang dengan Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Melorot

Harga minyak melorot tajam, setelah Donald Trump mau tarik diri dari perang dengan Iran.
Harga minyak melorot tajam, setelah Donald Trump mau tarik diri dari perang dengan Iran.

Jakarta – Pergerakan harga minyak dunia berbalik melemah pada perdagangan Rabu, 1 April 2026, setelah sebelumnya mencatat lonjakan tajam. Koreksi ini dipicu oleh perubahan sentimen pasar menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengindikasikan kemungkinan penghentian operasi militer terhadap Iran dalam waktu dekat.

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei tercatat turun 1,24 persen atau sekitar USD 1,26 menjadi USD 100,12 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juni 2026 terkoreksi lebih dalam sebesar 2,82 persen atau USD 2,93 ke level USD 101,04 per barel.

Pelemahan ini terjadi hanya sehari setelah harga minyak sempat melonjak signifikan. Sepanjang Maret, harga bahkan mencatat kenaikan lebih dari 60 persen—menjadi reli bulanan paling kuat dalam beberapa dekade terakhir. Pada perdagangan sebelumnya, kontrak WTI sempat ditutup menguat sekitar 5 persen.

Arah pasar mulai berubah setelah Trump menyampaikan bahwa keterlibatan militer AS dalam konflik dengan Iran kemungkinan akan segera diakhiri dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal awal meredanya ketegangan geopolitik yang selama ini mendorong lonjakan harga energi.

Trump menegaskan bahwa keberadaan pasukan AS di kawasan tidak lagi memiliki urgensi, bahkan menyebut langkah penarikan sebagai keputusan rasional dalam situasi saat ini. Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa ancaman program nuklir Iran telah berhasil ditekan.

Baca Juga  Konflik Memanas, Ratusan Warga Iran dan Israel Jadi Korban

Di sisi lain, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump akan menyampaikan pidato resmi untuk memberikan perkembangan terbaru terkait konflik tersebut. Pasar pun memilih bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan lanjutan.

Sejak konflik memanas pada akhir Februari, pasokan energi global mengalami gangguan serius, terutama akibat terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz. Jalur strategis ini selama ini menjadi penghubung utama aliran minyak dari kawasan Teluk dan menyumbang sekitar seperlima pasokan global.

Penutupan sebagian jalur oleh Iran sempat memicu kekhawatiran luas di pasar internasional. Namun, dengan munculnya harapan deeskalasi konflik, tekanan terhadap harga minyak mulai mereda karena potensi pemulihan distribusi.

Meski demikian, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Ancaman serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan terus bergulir. Garda Revolusi Iran bahkan disebut tengah menyiapkan langkah untuk menargetkan sejumlah perusahaan besar asal AS yang beroperasi di Timur Tengah.

Sejumlah korporasi global seperti Google, Microsoft, Apple, Intel, hingga Tesla dikabarkan masuk dalam radar ancaman tersebut.

Insiden terbaru juga terjadi di Kuwait, di mana serangan drone menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar di bandara internasional dan memicu kebakaran besar. Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa risiko geopolitik masih membayangi pasar energi.

Baca Juga  Trump Kirim Kapal Perang ke Kawasan Iran, Buka Peluang Dialog

Sejumlah analis menilai langkah AS berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, penarikan pasukan dapat meredakan ketegangan, namun di sisi lain berpotensi dipersepsikan sebagai pelemahan strategi di tengah konflik yang belum sepenuhnya berakhir.

Sementara itu, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan tidak ada negosiasi langsung dengan Washington. Ia menyebut komunikasi yang terjadi sejauh ini hanya bersifat tidak langsung dan bukan bagian dari proses diplomasi formal.

Dengan dinamika yang masih berkembang cepat, pelaku pasar global kini menanti langkah konkret berikutnya dari Amerika Serikat. Perkembangan konflik ini diperkirakan tetap menjadi faktor dominan yang menentukan arah harga minyak dalam waktu dekat.(*)