Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan signifikan pada nilai impor Indonesia di bulan Februari 2026. Total impor tercatat mencapai USD20,89 miliar, meningkat 10,85 persen dibandingkan Februari 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa peningkatan ini terutama ditopang oleh impor non-migas yang mengalami pertumbuhan cukup besar.
“Pada Februari 2026, total impor Indonesia mencapai USD20,89 miliar, atau naik 10,85 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” ungkap Ateng Hartono saat konferensi pers BPS, Rabu (1/4/2026).
Impor non-migas tercatat senilai USD18,90 miliar, naik 18,24 persen secara tahunan. Di sisi lain, impor migas justru menurun 30,36 persen dibanding Februari 2025.
Jika dilihat secara kumulatif, nilai impor Januari–Februari 2026 mencapai USD42,09 miliar, meningkat 14,44 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar datang dari sektor non-migas, senilai USD36,93 miliar atau naik 17,49 persen.
Ateng menekankan bahwa pertumbuhan impor terjadi hampir di seluruh kategori penggunaan barang, terutama bahan baku dan barang penolong yang penting bagi industri dalam negeri.
“Peningkatan terbesar berasal dari impor bahan baku dan penolong, yang mencapai USD29,40 miliar atau naik 9,27 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan signifikan terlihat pada logam mulia, perhiasan atau permata (HS71), mesin dan peralatan listrik (HS85), serta berbagai produk kimia (HS38),” jelasnya.
Dari segi asal barang, China tetap menjadi mitra utama Indonesia. Selain China, impor dari Australia, Singapura, dan Uni Eropa juga meningkat. Namun, impor dari negara-negara ASEAN tercatat menurun pada periode ini.(BY)












