Jakarta – Petani kelapa sawit di berbagai daerah masih menghadapi beragam tantangan, tidak hanya soal naik turunnya harga komoditas, tetapi juga kendala teknis di lapangan. Mulai dari penggunaan bibit yang kurang berkualitas, kesalahan dalam pemupukan, hingga penanganan hama dan penyakit menjadi faktor yang memengaruhi hasil panen.
Selama ini, banyak praktik budidaya dilakukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun. Minimnya pendampingan serta pengetahuan teknis membuat sebagian petani mengambil keputusan hanya berdasarkan pengalaman, tanpa perhitungan agronomis yang tepat.
Hal tersebut pernah dialami oleh Indra Ayu Riantika dari Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya pemupukan dilakukan tanpa dosis yang jelas dan panen mengikuti pola lama. Namun, kondisi mulai berubah setelah mengikuti program kemitraan dengan PT Sukses Karya Mandiri.
Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya meningkatkan hasil kebun, tetapi juga berdampak positif pada ekonomi keluarga. Pengetahuan yang didapat pun bisa diterapkan di lahan lain yang dimilikinya.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Muslimin di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Berkat bimbingan dari PT Anugerah Agung Prima Abadi, produktivitas kebunnya meningkat signifikan hingga mencapai lebih dari 24 ton tandan buah segar per hektare per tahun.
Program pendampingan ini merupakan bagian dari pola kemitraan yang dijalankan oleh Triputra Agro Persada melalui sejumlah anak usahanya di berbagai wilayah. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga pada penguatan kemampuan petani dalam mengelola kebun secara profesional.
Selain kemitraan plasma, perusahaan juga menghadirkan program edukasi bernama Pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (Perkasa). Program ini bertujuan membekali petani dengan pemahaman teknis, mulai dari pemilihan bibit unggul, pemupukan yang tepat, hingga teknik panen yang optimal.
Sejak diluncurkan pada akhir 2024, pelatihan ini telah menjangkau puluhan desa di berbagai wilayah seperti Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Para petani pun merasakan perubahan, tidak hanya dari sisi hasil produksi, tetapi juga meningkatnya kepercayaan diri dalam mengelola kebun secara lebih modern.
Salah satu peserta, Maijan, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru, terutama terkait perawatan kebun dan teknik pemupukan agar tanah tetap subur dan hasil panen maksimal.
Pendekatan yang berkelanjutan melalui pendampingan dan pelatihan ini dinilai menjadi kunci penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan kemampuan yang semakin baik, produktivitas kebun dapat terus meningkat sekaligus mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia dalam jangka panjang.(BY)












