Jakarta – Pemerintah mulai membuka peluang ekspor beras setelah Indonesia dinyatakan berhasil mencapai swasembada pada 2025. Peningkatan produksi sekitar 13 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi faktor utama di balik kebijakan ini.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyebutkan bahwa kondisi surplus membuat Indonesia kini mampu memasok beras ke luar negeri. Beberapa negara tujuan yang dibidik antara lain Arab Saudi dan Papua Nugini.
Ia menjelaskan bahwa pada 2025 Indonesia tidak lagi bergantung pada impor beras karena produksi dalam negeri sudah mencukupi bahkan berlebih. Kenaikan produksi yang signifikan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok tersebut.
Sebagai tahap awal, pemerintah telah merealisasikan pengiriman beras ke Arab Saudi sebanyak 2.000 ton. Jumlah ini merupakan bagian dari rencana ekspor yang ditargetkan mencapai sekitar 20.000 ton.
Pengiriman tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah asal Indonesia di Arab Saudi. Selain itu, pemerintah juga melihat peluang untuk memperluas pasar dengan menyasar kebutuhan jemaah dari berbagai negara lain yang berada di sana.
Tidak hanya Arab Saudi, pemerintah juga menyiapkan ekspansi pasar ke negara lain. Papua Nugini menjadi salah satu tujuan berikutnya karena dinilai memiliki permintaan beras yang cukup tinggi. Di sisi lain, Malaysia juga disebut telah menunjukkan minat, meski masih dalam tahap penjajakan.
Dengan produksi yang diproyeksikan tetap melimpah, pemerintah optimistis ekspor beras dapat terus dikembangkan sebagai langkah memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional.(BY)












