Ramadhan Terapi Korupsi : Penyakit Bangsa Harus Diobati dari Dalam Jiwa

Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag
Pengasuh surautuanku professor@series39.

Padang – Tulisan ini hadir pekan terakhir Ramadhan ini ada 2 (dua) Bupati terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasi Korupsi (KPK). Miris dan sedih hati melihat orang-orang pilihan rakyat, justru terhina kena OTT, diduga korupsi proyek atau menyalahgunakan jabatan.

Di bulan yang disucikan umat Islam, Ramadhan kita menyaksikan fenomena yang paradoks. Masjid penuh, tarawih ramai, ceramah agama di mana-mana. Tetapi pada saat yang sama berita tentang korupsi tetap muncul silih berganti. Seolah-olah ibadah berjalan, tetapi moral belum sepenuhnya berubah.

Di sinilah pertanyaan mendasar harus diajukan secara jujur. Mengapa orang yang shalat masih korupsi? Mengapa orang yang berpuasa masih menyalahgunakan jabatan?

Jawabannya mungkin sederhana tetapi menyakitkan. Karena, ibadah belum menjadi terapi jiwa, masih sebatas rutinitas ritual.

Padahal jika dipahami secara benar, Ramadhan sebenarnya adalah program pendidikan anti korupsi paling lengkap yang pernah ada.

Korupsi Bukan Sekadar Masalah Hukum.
Korupsi sering dipahami sebagai pelanggaran hukum. Padahal sebelum menjadi pelanggaran hukum, ia terlebih dahulu merupakan penyakit karakter.

Akar korupsi bukan hanya kesempatan, tetapi keserakahan, cinta dunia berlebihan, ego kekuasaan, dan hilangnya rasa cukup (qanā’ah).

Al-Qur’an sudah mengingatkan: “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”(QS Al-Fajr: 20)

Ketika cinta harta tidak dikendalikan, jabatan berubah menjadi alat memperkaya diri. Sebab itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum. Ia harus dibarengi dengan pendekatan moral dan spiritual.

Puasa: Latihan Integritas Tanpa Pengawasan
Puasa sebenarnya latihan integritas paling nyata.
Orang yang berpuasa sangat mungkin makan atau minum diam-diam ketika tidak ada yang melihat. Tetapi ia tidak melakukannya.
Mengapa? Karena ia merasa diawasi Allah.

Inilah inti integritas : Jujur ketika tidak ada pengawasan.
Jika nilai ini tertanam kuat, seseorang tidak akan korupsi meskipun memiliki kesempatan besar. Sebab pengawasan terbesar bukan kamera, bukan auditor, bukan aparat hukum, tetapi hati nurani yang hidup.

Baca Juga  Baznas RI Umumkan Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Ramadhan 2026

Ramadhan melatih manusia memiliki self control dan self accountability, sesuatu yang dalam psikologi modern disebut sebagai kematangan moral.

Lapar sebagai Terapi Keserakahan.
Puasa juga mengajarkan kesederhanaan. Lapar mengajarkan bahwa hidup tidak membutuhkan sebanyak yang dibayangkan.

Orang yang terbiasa menahan diri akan lebih mudah mengatakan : Cukup.
Korupsi terjadi karena seseorang tidak pernah merasa cukup. Selalu ada alasan menambah. Selalu ada pembenaran untuk mengambil. Selalu ada rasionalisasi untuk menyalahgunakan.

Ramadhan datang untuk memutus siklus itu.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu manfaat puasa adalah melemahkan syahwat dunia dan menguatkan kendali diri. Dalam bahasa modern, puasa melatih pengendalian impuls dan mengurangi perilaku konsumtif.

Zakat : Terapi Melawan Cinta Harta.
Jika korupsi lahir dari cinta harta berlebihan, maka zakat adalah terapi melepaskan keterikatan itu.

Allah berfirman “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS At-Taubah: 103)

Zakat bukan sekadar redistribusi ekonomi. Ia adalah pendidikan jiwa agar manusia tidak menjadi budak harta.

Orang yang terbiasa memberi akan sulit menjadi koruptor. Sebab, ia telah belajar bahwa kebahagiaan bukan dari menumpuk, tetapi dari berbagi.

Shalat ; Terapi Kesombongan Jabatan.
Ramadhan juga mengajarkan kesetaraan sosial. Dalam shalat, pejabat dan rakyat berdiri dalam satu saf. Tidak ada kursi khusus. Tidak ada protokoler. Tidak ada jarak status.

Ini pelajaran sosial yang sangat penting: jabatan tidak membuat seseorang lebih mulia di hadapan Allah.

Al-Qur’an menegaskan “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”(QS Al-Hujurat: 13)

Jika nilai ini hidup dalam diri pemimpin, jabatan akan dipahami sebagai amanah, bukan kesempatan.

Mengapa Ibadah Tidak Selalu Melahirkan Integritas? Lantaran, ibadah kadang berhenti pada bentuk, belum sampai pada makna.

Baca Juga  Tkci Pariaman Adakan Baksos Ramadhan

Puasa seharusnya mengubah: perilaku, cara berpikir, dan cara menggunakan kekuasaan.

Rasulullah SAW mengingatkan “Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”(HR Ahmad)

Artinya puasa yang tidak melahirkan perubahan karakter hanyalah rutinitas biologis, belum menjadi transformasi moral.

Ramadhan sebagai Madrasah Integritas Bangsa.
Jika nilai Ramadhan benar-benar dijadikan dasar pembinaan karakter bangsa, sesungguhnya kita memiliki modal besar untuk membangun budaya anti korupsi.

Integritas bukan lahir dari ancaman hukuman, tetapi dari kesadaran moral.

Hukum penting. Pengawasan penting. Sistem penting. Tetapi lebih penting lagi adalah membangun manusia yang merasa diawasi Allah meskipun tidak diawasi siapa pun.

Di situlah Ramadhan menemukan relevansinya sebagai madrasah integritas nasional.

Penutup : Terapi Korupsi Dimulai dari Hati

Bangsa ini tidak kekurangan aturan. Tidak kekurangan lembaga pengawas. Tidak kekurangan regulasi. Yang sering kurang adalah kekuatan moral dalam diri manusia. Koruptor bukan kekurangan harta. Koruptor kekurangan rasa cukup.

Dan Ramadhan datang mengajarkan satu kalimat sederhana yang bisa menyelamatkan banyak manusia dari korupsi. Hidup sederhana itu cukup. Jabatan itu amanah. Harta itu titipan.

Dan pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang bukan rekening, bukan jabatan, bukan popularitas.

Tetapi, hati yang bersih.
Jika Ramadhan berhasil melahirkan manusia seperti itu, maka sesungguhnya Ramadhan bukan hanya menyelamatkan individu, tetapi juga menyelamatkan bangsa.(ds.15032026).