Serangan AS–Israel dan Kematian Khamenei, Analisis Ideologi Syahadah dan Strategi Iran

Kesyahidan Ali Khamenei adalah Bentuk Perlawanan terhadap Hegemoni Global.
Kesyahidan Ali Khamenei adalah Bentuk Perlawanan terhadap Hegemoni Global.

Jakarta – Kematian Ayatullah Ali Khamenei akibat serangan udara Israel dan Amerika pada Minggu (1/3/2026), menurut laporan media pemerintah Iran, dipandang sebagai puncak perjalanan seorang ulama pejuang dalam perspektif Islam.

Hal ini dikemukakan oleh M. Thaufan Arifuddin, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, dalam sebuah artikel di situs Unand.ac.id.

Thaufan menjelaskan bahwa dalam Islam, konsep kesyahidan bukan sekadar mati di medan perang, melainkan puncak pengabdian yang terkait dengan falsafah pergerakan

Islam untuk menegakkan kebenaran. Mengutip karya Murtadha Muthahhari, kesyahidan dianggap sebagai energi spiritual yang memperkuat masyarakat dalam menghadapi ketidakadilan.

“Kesyahidan pemimpin Islam modern merupakan kelanjutan perjuangan Karbala, menjaga kesucian agama dari kekuatan jahat yang disebut dalam pernyataan resmi Iran sebagai penjahat kemanusiaan. Kematian bukan akhir, tetapi bukti kebenaran janji Ilahi,” ujar Thaufan.

Baca Juga  Taiwan Waspada, Serangan Siber Dihubungkan dengan Strategi Tekanan Beijing

Dari perspektif spiritual, kesyahidan juga merupakan perjalanan irfan (pengetahuan batin) di mana seorang pejuang menyerahkan eksistensinya secara total kepada Tuhan.

Thaufan menambahkan bahwa kematian Khamenei dimaknai sebagai puncak perjalanan spiritualnya di medan jihad. Simbol-simbol kesyahidan pun berfungsi sebagai legitimasi ideologis, mengubah tragedi menjadi kemenangan moral dan memperkuat narasi penantian Imam Mahdi.

Selain dimensi spiritual, aspek strategi militer Iran juga menjadi sorotan. Thaufan menekankan bahwa serangan rudal dan drone Iran yang menghantam pangkalan militer AS dan Israel merupakan manifestasi dari ideologi tauhid yang menolak imperialisme Amerika, bukan sekadar kemampuan teknologi.

Strategi ini dirancang dengan presisi oleh Ali Larijani, Ketua Dewan Keamanan Iran, yang mengombinasikan prinsip Realisme dan Game Theory untuk menempatkan AS dalam posisi sulit.

“Kalkulasi cermat Larijani membuat sistem pertahanan Barat kewalahan, sementara personel Iran bergerak dengan logika kesyahidan,” kata Thaufan. Strategi ini juga berdampak ekonomi signifikan, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang menekan struktur energi global, sesuai analisis para ekonom internasional.

Baca Juga  Kebijakan Baru AS Batasi Penjualan Drone Asing, Hanya Berlaku untuk Model Baru

Thaufan menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan Iran merupakan perpaduan unik antara teologi syahadah, kecanggihan teknologi, dan perhitungan strategis. Menurutnya, selama AS hanya mengandalkan kekuatan fisik dan modal, upaya agresinya akan selalu berakhir pada kegagalan strategis.(des*)