Jakarta – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), perusahaan ferry milik negara, akan memberikan kontribusi dividen sekitar Rp101 miliar kepada kas negara. Pembagian dividen ini merupakan hasil dari upaya transformasi perusahaan sepanjang tahun 2022 yang menghasilkan laba tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp585 miliar.
Shelvy Arifin, Sekretaris Perusahaan ASDP, menyatakan bahwa dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), perusahaan akan menyalurkan dividen sebesar 18% dari laba perseroan tahun 2022 atau sekitar Rp101 miliar.
“Penyaluran dividen ini mencerminkan komitmen kami untuk terus berkontribusi pada negara, khususnya dalam mendukung program-program kerakyatan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Shelvy dalam keterangan resmi pada hari Minggu (2/7/2023).
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengumumkan bahwa Kementerian BUMN akan menerima dividen terbesar sepanjang sejarah BUMN senilai Rp80,2 triliun.
Pembayaran dividen oleh BUMN kepada negara terdiri dari Rp80,20 triliun yang berasal dari BUMN perusahaan terbuka dan sisanya Rp9,97 triliun dari BUMN perusahaan non terbuka.
Erick menyatakan bahwa ASDP adalah salah satu dari tujuh BUMN non terbuka yang memberikan dividen terbesar. Dengan demikian, ASDP berperan dalam memberikan kontribusi bukan hanya melalui penerimaan pajak, tetapi juga melalui kinerja bisnis yang baik.
Sementara itu, manajemen ASDP berhasil mencapai terobosan operasional dan keuangan setelah pandemi COVID-19.
Pada tahun 2022, perusahaan ini kembali mencatatkan kinerja positif dengan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp585 miliar.
Shelvy menyatakan bahwa ada dua faktor utama yang berkontribusi pada pencapaian ini. Pertama, dari sisi eksternal, adalah dampak pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dilakukan oleh pemerintah. Akibatnya, selama tahun 2022, terutama pada periode angkutan Lebaran dan Tahun Baru, pergerakan penumpang dan kendaraan telah kembali normal dan terus meningkat.
Selain itu, pelonggaran pergerakan kendaraan dan penumpang setelah pandemi COVID-19 diperkuat dengan dicabutnya PPKM oleh Pemerintah pada tanggal 30 Desember 2022, sehingga masyarakat lebih bebas dalam melakukan perjalanan.
Faktor kedua adalah faktor internal, antara lain pembenahan operasional dan perbaikan proses bisnis yang lebih efektif dan efisien, termasuk digitalisasi sistem pemesanan tiket di seluruh pelabuhan ASDP.
Berdasarkan laporan kinerja konsolidasian ASDP 2022 yang diaudit dari Januari hingga Desember 2022, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,381 triliun dan laba bersih sebesar Rp585 miliar.
Pendapatan pada tahun 2022 melebihi pendapatan total dalam kondisi normal sebelum COVID-19 pada tahun 2019 sebesar Rp3,328 triliun, dengan kenaikan sebesar 23,4% dibandingkan dengan realisasi tahun 2021 sebesar Rp3,550 triliun.
Sementara itu, laba bersih mencapai 220,8% dari target yang ditetapkan, dengan pertumbuhan sebesar 79,4% dibandingkan dengan laba tahun 2021 sebesar Rp326 miliar.
Pencapaian kinerja positif tahun 2022 juga didukung oleh kinerja penyeberangan yang baik, baik dalam produksi perintis maupun komersial (gabungan). Jumlah penumpang mencapai 7,6 juta orang, naik 66% dibandingkan dengan realisasi tahun 2021 yang sebanyak 4,6 juta orang. Jumlah kendaraan roda 2 dan 3 mencapai 4,1 juta unit, naik 66% dari realisasi tahun 2021 yang sebanyak 2,5 juta unit. Sementara itu, kendaraan roda 4 mencapai 4,4 juta unit, naik 48% dibandingkan dengan realisasi tahun 2021 yang sebanyak 2,9 juta unit. Namun, volume barang mengalami penurunan menjadi 1,3 juta ton, turun 47% dibandingkan dengan realisasi tahun 2021 yang sebanyak 2,4 juta ton.
“Penambahan volume penumpang dalam pelayaran ferry tidak terlepas dari transformasi, termasuk digitalisasi layanan yang berkelanjutan yang dilakukan oleh perusahaan. ASDP telah melayani 7,6 juta penumpang, naik 73% dari 4,4 juta penumpang pada tahun 2021,” ujar Shelvy.
Dia menambahkan bahwa peningkatan jumlah penumpang juga disebabkan oleh ketersediaan infrastruktur yang memadai, seperti kapal, dermaga, dan pelabuhan, serta sumber daya manusia yang unggul dan selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jasa.
Selain itu, kinerja positif juga didukung oleh program pengendalian biaya melalui langkah efisiensi, yang terlihat dari rasio operasional sebesar 66,89%, lebih rendah dibandingkan dengan rasio tahun 2021 sebesar 72,05%.
Selanjutnya, rasio biaya operasional (BOPO) tahun 2022 sebesar 86,06%, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2021 sebesar 91,51%, yang menunjukkan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan efisiensinya dengan mengendalikan beban pokok dan beban usaha. (by)












