BRIN Dorong Pengembangan Arsinum untuk Penuhi Kebutuhan Air Darurat

Kepala BRIN, Arif Satria saat menjajal air bersih yang dihasilkan melalui teknologi Arsinum di lokasi banjir bandang Aceh Tamiang.
Kepala BRIN, Arif Satria saat menjajal air bersih yang dihasilkan melalui teknologi Arsinum di lokasi banjir bandang Aceh Tamiang.

JakartaBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat keberhasilan penerapan teknologi Air Siap Minum (Arsinum) dalam membantu penyediaan air bersih dan air minum di kawasan terdampak bencana. Inovasi ini terbukti efektif saat digunakan di lokasi banjir bandang Aceh Tamiang.

Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa Arsinum mampu memproses air banjir yang keruh dan bercampur lumpur menjadi air bersih, bahkan hingga layak dikonsumsi. Teknologi tersebut sangat membantu warga yang kesulitan mendapatkan air bersih dalam situasi darurat.

Arif menyampaikan pengalamannya secara langsung saat meninjau lokasi bencana di Aceh Tamiang. Ia mengatakan bahwa hasil riset para peneliti BRIN benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat di lapangan.

“Saya baru kembali dari Aceh Tamiang. Di sana kami melihat langsung bagaimana Arsinum dimanfaatkan oleh warga yang sedang menghadapi bencana,” ujar Arif saat berbincang dalam acara Media Lounge Discussion di Gedung BJ Habibie BRIN, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).

Menurut Arif, alat tersebut telah beroperasi dengan baik dan menunjukkan hasil nyata. Air banjir yang sebelumnya tidak dapat digunakan kini bisa diolah hingga aman untuk diminum.

“Air banjir yang awalnya kotor bisa diproses menjadi air minum. Saya sendiri mencobanya langsung, dan masyarakat merasa sangat terbantu,” ungkapnya.

Keberhasilan ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah setempat. Arif menyebut Arsinum sebagai contoh konkret hasil riset yang langsung memberi dampak bagi masyarakat.

“Respons dari pemerintah daerah sangat positif. Mereka melihat ini sebagai solusi nyata dari hasil penelitian BRIN,” katanya.

Lebih lanjut, Arif mendorong agar pengembangan Arsinum terus dilakukan, khususnya untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini, satu unit Arsinum mampu menghasilkan sekitar 10.000 liter air minum setiap hari. Ke depan, kapasitas tersebut ditargetkan dapat ditingkatkan dua kali lipat.

“Saya minta risetnya dilanjutkan supaya kapasitasnya bisa diperbesar. Kalau sekarang 10.000 liter per hari, ke depan kita dorong bisa mencapai 20.000 liter,” jelasnya.

Selain air minum, sistem Arsinum juga dapat menghasilkan air bersih dalam jumlah yang lebih besar. Dalam satu unit yang sama, volume air bersih yang diproduksi berkisar antara 20.000 hingga 30.000 liter per hari.

“Air minum itu satu bagian. Sementara untuk air bersih, kapasitasnya bisa mencapai 20 sampai 30 ribu liter per hari,” tambah Arif.

Ia menjelaskan bahwa proses pengolahan dilakukan secara bertahap. Air banjir berlumpur terlebih dahulu diproses menjadi air bersih, kemudian dilanjutkan ke tahap pemurnian agar layak dikonsumsi.

“Air banjir yang keruh masuk ke sistem, lalu keluar sebagai air bersih. Setelah itu diproses kembali hingga menjadi air minum yang aman,” tutupnya.(BY)