Jakarta – Polisi akhirnya mengungkap motif di balik kasus penculikan sekaligus pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) Bank, M Ilham Pradipta (37). Aksi keji itu dilakukan untuk menguras dana dari rekening tidak aktif atau dormant account.
Sebanyak 16 orang ditetapkan sebagai tersangka, terdiri dari 14 warga sipil yang telah ditangkap, 1 masih buron, serta 2 anggota TNI AD yang kini ditangani Pomdam Jaya. Para pelaku terbagi dalam empat kelompok dengan peran berbeda.
“Dari 15 tersangka sipil yang sudah kami amankan, mereka dibagi ke dalam empat klaster peran,” ungkap Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra dalam konferensi pers, Selasa (16/9/2025),sebagaimana dikutip detik,com
Empat Klaster Peran Tersangka
Otak Perencanaan
Kelompok ini merancang seluruh aksi. C alias Ken mengatur strategi dan menyiapkan tim IT untuk memindahkan dana dari rekening dormant ke rekening penampungan. Bersamanya, Dwi Hartono (DH) merekrut tim penculik serta menyiapkan dana operasional Rp60 juta. Ada pula AAM yang mengoordinasi tim pengintai, serta JP yang mengatur eksekusi, ikut membuang jenazah korban, sekaligus mengucurkan Rp150 juta untuk operasional penculikan.
Tim Penculik
Lima orang bertugas melaksanakan penculikan. E berperan utama memasukkan korban ke mobil, melilitkan lakban, dan melakukan penganiayaan. Ia menerima Rp45 juta dari Kopda FH, oknum TNI yang juga tersangka. REH, RS, AT, dan EWB turut membantu dari sisi eksekusi, termasuk sebagai sopir.
Tim Penganiaya
JP kembali masuk dalam klaster ini bersama MU dan DS yang mengemudikan mobil Fortuner hitam tempat korban dianiaya hingga tewas. Serka N, oknum TNI lainnya, juga diduga terlibat dan kini ditahan oleh Pomdam Jaya.
Tim Pengintai
Empat orang, yakni AW, EWH, RS, dan AS, ditangkap karena mengintai gerak-gerik korban. Sementara satu orang lainnya berinisial EG masih dalam pengejaran.
Kronologi Kejadian
Ilham diculik dari area parkir supermarket di Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada 20 Agustus. Esok harinya, jasadnya ditemukan di Serang Baru, Bekasi. Polisi menyebut korban dipilih secara acak hanya berdasarkan kartu nama yang dimiliki salah satu tersangka.
Sebelum kejadian, para pelaku sempat mencoba membujuk sejumlah kepala cabang bank untuk bekerja sama, namun gagal. Akhirnya, mereka memilih menculik Ilham secara paksa.
Misteri Informasi Rekening Dormant
Polisi juga menelusuri sumber informasi mengenai rekening dormant. Menurut penyelidikan, C alias Ken memperoleh data itu dari seseorang berinisial S. Hingga kini, peran S masih didalami dan belum ada bukti keterlibatan karyawan bank.
“Sejauh ini belum ada indikasi pegawai bank BUMN yang terlibat. Penyidikan masih terus berjalan,” kata Kombes Wira.
Rencana awal para pelaku sebenarnya hanya ingin memaksa korban untuk memuluskan akses rekening dormant dan kemudian melepaskannya. Namun, situasi berubah hingga korban berakhir tewas.(des*)












